Pengumpan RSS

KIMIA AIR “ANALISIS AIR DI LAPANGAN”

Posted on

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Ilmu Laboratorium Kesehatan sebagai bagian integral ilmu kesehatan merupakan ilmu yang membahas tentang aspek laboratorium tidak hanya dalam menunjang diagnosis, membantu diagnosis, menegakkan diagnosis, differensial diagnosis, follow up penyakit dan prognosis penyakit, tapi juga membantu dalam mengkontrol suatu kondisi epidemiologi penyakit, kejadian keracunan, wabah menular dan tingkat sanitasi kesehatan melalui parameter kimia air, kimia makanan minuman dan kimia farmasi toksikologi.
Air merupakan bahan yang sangat penting bagi kehidupan umat manusia dan fungsinya tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Air juga merupakan komponen penting dalam bahan makanan karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, serta cita rasa makanan kita. Semua bahan makanan yang mengandung air dalam jumlah yang berbeda-beda, baik itu bahan makanan hewani maupun nabati. Air berperan sebagai pembawa zat – zat makanan dan sisa-sisa metabolisme, sebagai media reaksi yang menstabilkan pembentukan biopolimer,dan sebagainya.
Kandungan air dalam bahan makanan ikut menentukan acceptability, kesegaran dan daya tahan bahan itu. Selain itu, air juga merupakan pencuci yang baik bagi bahan makanan tersebut atau alat-alat yang akan digunakan dalam pengolahannya.
Bila badan manusia hidup dianalisis komposisi kimianya, maka akan diketahui bahwa kandungan airnya rata-rata 65% atau sekitar 47 liter per orang dewasa. Setiap hari sekitar 2,5 liter haus diganti dengan air yang baru. Diperkirakan dari sejumlah air yang harus diganti tersebut 1,5 liter berasal dari air minum dan sekitar 1,0 liter berasal adari bahan makanan yang dikonsumsi.

B. Tujuan Makalah
1. Penetapan baku mutu air dari berbagai kegiatan yang potensial menjadi sumber pencemaran air.
2. Menentukan Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
3. Dapat menentukan Aspek-aspek yang harus dipertimbangkan dalam penetapan Metodologi yang dipakai dalam “Analisis Air Di Lapangan”.
4. Melakukan pengkajian (analisis) alternatif teknologi pengendalian air di Lapangan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGAMBILAN SAMPEL AIR UNTUK PEMERIKSAAN KIMIA

1. PENDAHULUAN

Air merupakan senyawa yang mempunyai rumus molekul H2O. Dalam molekul tersebut. Atom Oksigen berikatan dengan 2 atom Hidrogen dengan ikatan kovalen. Penentuan atau penetapan kandungan air dapat dilakukan dengan beberapa cara. Hal ini tergantung pada sifat bahannya. Pada umumnya penentuan kadar air dilakukan dengan mengeringkan bahan dalam oven pada suhu 105 – 1100 C selama 3 jam atau sampai didapat berat yang konstan. Selisih berat sebelum dan sesudah pengeringan adalah banyaknya air yang diuapkan. Untuk bahan-bahan yang tidak tahan panas, seperti bahan yang berkadar gula tinggi, minyak, daging, kecap, dan lain-lain pemanasan dilakuikan dalam oven vakum dengan suhu yang lebih rendah.
Kadang-kadang pengeringan dilakukan tanpa pemanasan, bahan dimasukkan dalam eksikator dengan H2SO4 pekat sebagai pengering, hingga mencapai berat yang konstan. Penentuan kadar air dari bahan-bahan yang kadar airnya tinggi dan mengandung senyaawa – senyawa yang mudah menguap (volatile) seperti sayuran dan susu, menggunakan cara destilasi dengan pelarut tertentu, misalnya Toluen, xilol dan heptana yang berat jenisnya lebih rendah daripada air.
Contoh (sampel) dimasukkan dalam tabung bola (flask), kemudian dipanaskan. Air dan pelarut menguap, diembunkan, dan jatuh pada tabung Aufhauser yang berskala. Air yang mempunayai berat jenis lebih besar ada dibagian bawah, sehingga jumlah air yang diupakan dapat dilihat pada skala tabung Aufhauser tersebut
Tujuan dari pengambilan sampel / contoh adalah untuk mengumpulkan sebagian material / bahan dalam volume yang cukup kecil yang mewakili material / bahan yang akan diperiksa secara tepat / teliti untuk dapat dibawa dengan mudah dan diperiksa di laboratorium.
Hal ini berarti bahwa perbandingan atau konsentrasi relatif yang tepat dari semua komponen dalam sampel akan sama seperti dalam material yang disampling, serta tidak mengalami perubahan-perubahan yang berarti dalam komposisinya sebelum pemeriksaan dilakukan.
Untuk mendapatkan sampel yang mewakili diperlukan seorang pengambil sampel yang dapat / mampu melakukan prosedur pengambilan dan pengawetan sampel dengan baik, agar hasil uji laboratorium nantinya merupakan hasil uji yang dapat dipertanggungjawabkan kualitas dan kuantitasnya. Kemungkinan kandungan pada sampel dapat hilang secara keseluruhan atau sebagian jika prosedur pengambilan dan pengawetan sampel yang baik tidak diikuti dengan benar. Pada waktu pengambilan sampel air dilakukan pemeriksaan parameter air yang harus dilakukan segera / dilakukan dilapangan seperti : pemeriksaan fisika, pH, sisa Chlor.
2. Pengertian
Beberapa pengertian yang dimaksud dalam metode ini meliputi :
a) Sumber air adalah air permukaan, air tanah dan air meteoric
b) Air permukaan adalah air yang terdiri dari : air sungai, air danau, air waduk, air saluran, mata air, air rawa dan air gua / air karst.
c) Air tanah bebas adalah air dari akifer yang hanya sebagian terisi air dan terletak pada suatu dasar yang kedap air serta mempunyai permukaan bebas.
d) Air tanah tertekan adalah air dari akifer yang sepenuhnya jenuh air dengan bagian atas dan bawahnya dibatasi oleh lapisan yang kedap air.
e) Akifer adalah suatu laipsan pembawa air.
f) Epilimnion adalah lapisan atas danau atau waduk yang suhunya relatif sama.
g) Termoklin / metalimnion adalah laipsan danau yang mengalami penurunan suhu yang cukup besar (lebih dari 1O C/m) ke arah dasar danau.
h) Hipolimnion adalah lapisan bawah danau yang mempunyai suhu relatif sama dan lebih dingin dari lapisan atasnya, biasanya lapisan ini mengandung kadar oksigen yang rendah dan relatif stabil.
i) Air Meteorik adalah air meteorik dari labu ukur di stasiun meteor , air meteroik yang ditampung langsung dari hujan dan air meteorik dari bak penampungan air hujan.
j) Contoh adalah contoh air uji untuk keperluan pemeriksaan kualitas air.

3. Prinsip Pengambilan Sampel
Dapat dilihat pada pola urutan kerja sebagai berikut :
a. Menentukan lokasi pengambilan sampel
b. Menentukan titik pengambilan sampel.
c. Melakukan pengambilan sampel
d. Melakukan pengawetan sampel
e. Pengepakan sampel dan pengiriman ke laboratorium.

4. Bahan Pemeriksaan
Sampel air, yang berasal dari sumber air, air minum / air bersih, air kolam renang, air pemandian umum.
Ada 2 macam sampel air :
1. Sampel sesaat (grab sampel)
Sampel yang diambil pada suatu waktu dan tempat tertentu. Contoh : sampel yang diambil dari sumber air permukaan, sumber air persediaan.
2. Sampel gabungan waktu
Sampel yang dikumpulkan pada titik pengambilan sampel yang sama, tetapi pada waktu yang berbeda dan dalam waktu yang tidak lebih dari 24 jam. Sampel 120 ml setiap interval waktu masing-masing diambil dalam kapasitas tertentu atau satu jam sekali. Sampel-sampel kemudian dicampur pada akhir periode pengambilan sampel. Jika zat pengawet diperlukan, masukkan zat tersebut kedalam wadah yang masih kosong (setelah dicuci dengan sampel), sehingga semua bagian atau porsi dari gabungan sampel akan diawetkan segera setelah diambil dan digabungkan.
Sampel gabungan waktu digunakan untuk menentukan komponen-komponen yang dapat ditunjukkan tetap tidak berubah. Jumlah / volume sampel yang diambil untuk keperluan pemeriksaan dilapangan dan dilaboratorium tergantung pada jenis pemeriksaan yang diperlukan, yaitu sebagai berikut :
a. Untuk pemeriksaan fisika air diperlukan 2 liter.
b. Untuk pemeriksaan kimia air diperlukan 5 liter.
c. Untuk pemeriksaan bakteriologi air diperlukan 100 ml.

5. Alat dan reagen :
1. Alat
Alat-alat yang perlu dipersiapkan dalam pengambilan sampel sebagai berikut :
a. Alat pengambil sampel
b. Alat lain
c. Wadah untuk menyimpan sampel
Berikut penjelasan mengenai alat-alat yang diperlukan untuk pengambilan contoh :
a. Alat pengambil contoh
Alat pengambil contoh harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Terbuat dari bahan yang tidak terpengaruh sifat contoh (misalnya untuk keperluan pemeriksaan logam, alat pengambil contoh tidak terbuat daru logam.
2. Mudah dicuci dari bekas sampel sebelumnya.
3. Contoh mudah dipindahkan ke dalam botol penampung / wadah penyimpan tanpa ada sisa bahan tersuspensi didalamnya.
4. Mudah dan aman dibawa.
5. Kapasitas 1-5 liter, tergantung dari maksud pemeriksaan.
Alat pengambil sampel terdiri dari bermacam-macam bentuk tergantung pada jenis pemeriksaan yang dibutuhkan. Karena peralatan laboratorium di Puskesmas terbatas, maka yang digunakan adalah alat pengambil contoh tipe sederhana. Alat pengambil contoh tersebut adalah :
a. Alat pengambil contoh sederhana
Terdiri dari botol biasa atau ember plastik yang digunakan pada air permukaan secara langsung. Botol biasa yang diberi pemberat untuk digunakan pada kedalaman tertentu. Pemberat ini diikat dengan kawat kuningan / kawat tembaga dan tidak boleh memakai kawat besi, sebab besi mudah berkarat, sehingga mudah putus dan karatnya dapat mencemari air dengan menambah tinggi kadar besi.
b. Alat pengambil contoh setempat secara mendatar
Dipergunakan untuk mengambil contoh di sungai atau di tempat yang airnya mengalir pada kedalaman tertentu. Contoh alat ini adalah tipe Wohlenberg.
c. Alat pengambil contoh setempat secara tegak.
Dipergunakan untuk mengambil contoh pada lokasi yang airnya tenang atau alirannya sangat lambat seperti di danau, waduk, dan muara sungai pada kedalaman tertentu. Contoh alat ini adalah tipe Ruttner.
d. Alat pengambil sampel pada kedalaman yang terpadu untuk
pemeriksaan zat padat tersuspensi atau untuk mendapatkan contoh yang mewakili semua lapisan air. Contoh alat ini adalah tipe USDH.
e. Alat pengambil contoh secara otomatis yang dilengkapi alat pengatur waktu dan volume yang diambil. Digunakan untuk contoh gabungan waktu dari air limbah atau air sungai yang tercemar, agar diperoleh kualitas air rata-rata selama periode tertentu.
f. Alat pengambil contoh untuk pemeriksaan gas terlarut, yang dilengkapi tutup, sehingga alat dapat ditutup segera setelah terisi penuh. Contoh alat ini adalah tipe Casella.
b. Cara pengambilan sampel
1. Menentukan lokasi pengambilan sampel :
Lokasi pengambilan sampel dilakukan pada air permukaan dan air tanah. Lokasi pengambilan sampel ditentukan berdasarkan tujuan dan keperluan pengambilan sampel :
a. Lokasi pengambilan sampel air permukaan :
Lokasi pengambilan sampel air permukaan dapat berasal dari daerah pengaliran sungai dan danau / waduk.
b. Lokasi pengambilan sampel air tanah :
Pengambilan sampel air tanah dapat berasal dari air tanah bebas (tidak tertekan) dan air tanah tertekan dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Air tanah bebas (tidak tertekan), misal : sumur gali, sumur pompa tangan dangkal / dalam.
 Disebelah hulu dan hilir dari lokasi penimbunan / pembuangan sampah kota / industri.
 Disebelah hilir daerah pertanian yang intensif menggunakan pestisida dan pupuk kimia.
 Didaerah pantai dimana terjadi penyusupan air asin.
 Tempat-tempat lain yang dianggap perlu.
2. Air tanah tertekan
 Di sumur produksi air tanah untuk pemenuhan kebutuhan perkotaan, pedesaan, pertanian dan industri.
 Di sumur produksi air tanah PAM maupun sarana umum.
 Di sumur-sumur pemantauan kualitas air tanah.
 Di lokasi kawasan industri.
 Di sumur observasi untuk pengawasan imbuhan.
 Pada sumur observasi air tanah di suatu cekungan air tanah artesis ( misalnya : cekungan artesis Bandung)
 Pada sumur observasi di wilayah pesisir dimana terjadi penyusupan air asin.
 Pada sumur observasi penimbunan / pengolahan limbah industri bahan berbahaya dan beracun (B3).
 Pada sumur lainnya yang dianggap perlu.
2. Pemantauan kualitas air pada suatu daerah pengaliran sungai berdasarkan pada :
a. Sumber air alamiah :
Yaitu lokasi pada tempat yang belum terjadi atau masih sedikit pencemaran.
b. Sumber air tercemar :
Yaitu lokasi pada tempat yang telah mengalami perubahan atau dihilir sumber pencemar.
c. Sumber air yang dimanfaatkan
Yaitu lokasi pada tempat penyadapan pemenfaatan sumber air tersebut.
3. Pemantauan kualitas air pada danau / waduk berdasarkan pada :
a. Tempat masuknya sungai ke danau / waduk.
b. Ditengah danau / waduk.
c. Lokasi penyadapan air untuk pemanfaatan
d. Tempat keluarnya air danau / waduk.

c. Menentukan titik pengambilan contoh
a. Air permukaan.
Titik pengambilan contoh dapat dilakukan di sungai dan danau / waduk , dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Di sungai, titik pengambilan contoh di sungai dengan ketentuan:
a) Sungai dengan debit kurang dari 5 m3 / detik, contoh diambil pada satu titik di tengah sungai pada 0,5 x kedalaman dari permukaan air.
b) Sungai dengan debit antara 5 – 150 m3 / detik, contoh diambil pada dua titik masing-masing pada ada jarak 1/3 dan 2/3 lebar sungai pada 0,5 x kedalaman dari permukaan air.
c) Sungai dengan debit lebih dari 150 m3 / detik, contoh diambil minimum pada enam titik masing-masing pada jarak ¼. ½ dan ¾ lebar sungai pada 0,2 x dan 0,8 x kedalaman dari permukaan air.
2. Di danau / waduk, titik pengambilan contoh di danau / waduk dengan ketentuan :
a) Danau / waduk yang kedalamannya kurang dari 10 m, contoh diambil pada dua titik dipermukaan dan di dasar danau / waduk.
b) Danau / waduk dengan kedalaman antara 10-30 meter, contoh diambil pada tiga titik, yaitu : di permukaan, di lapisan termoklin dan di dasar danau / waduk.
c) Danau / waduk dengan kedalaman antara 30 – 100 m, contoh diambil pada empat titik, yaitu di permukaan, di lapisan termoklin ( metalimnion), di atas lapisan hipolimnion dan di dasar danau / waduk.
d) Danau / waduk yang kedalamannya lebih dari 100 m, titik pengambilan contoh dapat ditambah sesuai dengan keperluan.
b. Air tanah
Titik pengambilan contoh air tanah dapat berasal dari air tanah bebas dan air tanah tertekan (artesis) dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Air tanah bebas
a) Pada sumur gali, contoh diambil pada kedalaman 20 cm dibawah permukaan air dan sebaiknya diambil pada pagi hari.
b) Pada sumur bor dengan pompa tangan / mesin, contoh diambil dari kran / mulut pompa tempat keluarnya air setalh air dibuang selama lebih kurang 5 menit.
2. Air tanah tertekan
a) Pada sumur bor eksplorasi, contoh diambil pada titik yang telah ditentukan sesuai keperluan eksplorasi.
b) Pada sumur observasi, contoh diambil pada dasar sumur setelah air dalam sumur bor / pipa dibuang sampai habis (dikuras) sebanyak tiga kali.
c) Pada sumur produksi contoh diambil pada kran / mulut pompa keluarnya air.
3. Pengambilan sampel
a. Pengambilan sampel untuk pemeriksaan sifat fisika dan kimia air. Tahapan pengambilan contoh untuk keperluan ini adalah :
1. Menyiapkan alat pengambil contoh yang sesuai dengan keadaan sumber air.
2. Membilas alat dengan contoh yang akan diambil sebanyak tiga kali.
3. Mengambil contoh sesuai dengan keperluan dan campurkan dalam penampung sementara hingga merata.
4. Apabila contoh dimabil dari beberapa titik, maka volume contoh yang diambil dari setiap titik harus sama.
b. Pengambilan contoh untuk pemeriksaan Oksigen terlarut (DO). Pengambilan contoh dapt dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1. Cara langsung
Tahapan pengambilan contoh dengan cara langsung sebagai berikut :
 300 ml serta dilengkapi dengan tutup asah. Siapkan botol KOB (BOD) yang bersih dan mempunyai volume.
 Celupkan botol dengan hati-hati ke dalam air dengan posisi mulut botol searah dengan aliran air, sehingga air masuk kedalam botol dengan tenang, atau dapat pula dengan menggunakan sifon.
 Isi botol sampai penuh dan hindarkan terjadinya turbulensi dan gelembung udara selama pengisian dan penutupan botol, kemudian botol di tutup.
 Contoh siap untuk dianalisis.
2. Dengan alat khusus
Tahapan pengambilan contoh / sampel dengan cara alat khusus sebagai berikut :
 300 ml serta dilengkapi dengan tutup asah. Siapkan botol KOB (BOD) yang bersih dan mempunyai volume.
 Masukkan botol ke dalam alat khusus (tipe Casella).
 Ikuti prosedur pemakaian alat tersebut.
3. Label contoh
Contoh yang telah dimasukkan ke dalam wadah contoh diberi label. Pada label dicantumkan keterangan mengenai :
a. Nomor contoh
b. Nama petugas pengambil contoh
c. Tanggal dan jam pengambilan contoh
d. Tempat pengambilan contoh
6. Pemeriksaan di Lapangan
Pekerjaan yang dilakukan meliputi :
1. Pemeriksaan unsur-unsur yang dapat berubah dengan cepat, dilakukan langsung setelah pengambilan contoh ; unsur-unsur tersebut antara lain : pH, suhu, daya hantar listrik, alkalinity, acidity dan oksigen terlarut.
2. Semua hasil pemeriksaan dicatat dalam buku catatan khusus pemeriksaan di lapangan, yang meliputi : nama sumber air, tanggal pengambilan contoh, jam, keadaan cuaca, bahan pengawet yang ditambahkan dan nama petugas.
B. METODA PENGAMBILAN CONTOH AIR LIMBAH SESUAI SNI
Dalam rangka menyeragamkan teknik pengambilan contoh air limbah sebagaimana telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 Tahun 1988 tentang Baku Mutu Air dan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 37 Tahun 2003 tentang Metoda Analisis Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air Permukaan, maka dibuatlah Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Air dan air limbah – Bagian 59: Metode pengambilan contoh air limbah. SNI ini diterapkan untuk teknik pengambilan contoh air limbah sebagaimana yang tercantum di dalam Keputusan Menteri tersebut. Metoda ini digunakan untuk pengambilan contoh air guna keperluan pengujian sifat fisika dan kimia air limbah.
Kebutuhan Oksigen Biologi/KOB (Biologycal Oxcygen Demand, BOD), kebutuhan oksigen biokimiawi bagi proses deoksigenasi dalam suatu perairan atau air limbah.
Kebutuhan Oksigen Kimiawi/KOK (Chemical Oxcygen Demand COD), kebutuhan oksigen kimiawi bagi proses deoksigenasi dalam suatu perairan atau air limbah.
Nutrien, senyawa yang dibutuhkan oleh organisme yang meliputi fosfat, nitrogen, nitrit, nitrat dan ammonia.
Titik pengambilan contoh air limbah, tempat pengambilan contoh yang mewakili kualitas air limbah.
Bak Equalisasi, bak penampungan air limbah yang bertujuan untuk menghomogenkan beban dan pengaturan aliran air limbah.
1. Persyaratan alat pengambil contoh
Alat pengambil contoh harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi sifat contoh
b) mudah dicuci dari bekas contoh sebelumnya
c) contoh mudah dipindahkan ke dalam botol penampung tanpa ada sisa bahan tersuspensi di dalamnya
d) mudah dan aman di bawa
e) kapasitas alat tergantung dari tujuan pengujian.
2. Jenis alat pengambil contoh
 Alat pengambil contoh sederhana
Alat pengambil contoh sederhana dapat berupa ember plastik yang dilengkapi dengan tali atau gayung plastik yang bertangkai panjang.
Gambar 1 Contoh alat pengambil contoh gayung bertangkai panjang !

Gambar 2 Contoh botol biasa secara langsung !

 botol biasa yang diberi pemberat yang digunakan pada kedalaman tertentu.
Keterangan gambar:
A adalah pengait
B1 adalah tuas posisi tertutup
B2 adalah tuas posisi terbuka
C1 adalah tutup gelas botol contoh posisi tertutup
C2 adalah tutup gelas botol contoh posisi terbuka
D adalah tali penggantung
E adalah rangka metal botol contoh
Gambar 3 Contoh alat pengambil air Bersih botol biasa dengan pemberat
 Alat pengambil contoh air otomatis
Alat ini dilengkapi alat pengatur waktu dan volume yang diambil, digunakan untuk contoh gabungan waktu dan air limbah, agar diperoleh kualitas air rata-rata selama periode tertentu

Gam bar 4 Alat pengambil contoh air otomatis
3. Alat pengukur parameter lapangan
 DO meter atau peralatan untuk metode Winkler
 pH meter
 Turbidimeter
 Konduktimeter
 termometer; dan
 1 set alat pengukur debit.
4. Lokasi dan titik pengambilan contoh
a) Lokasi pengambilan contoh air limbah industri harus mempertimbangkan ada atau tidak adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
b) Contoh harus diambil pada lokasi yang telah mengalami pencampuran secara sempurna.
5. Penentuan lokasi pengambilan contoh
Lokasi pengambilan contoh dilakukan berdasarkan pada tujuan pengujian, sebagai berikut:
a) Contoh diambil pada lokasi sebelum dan setelah IPAL dengan memperhatikan waktu tinggal (waktu retensi).
b) Titik lokasi pengambilan contoh pada inlet
1. Dilakukan pada titik pada aliran bertubulensi tinggi agar terjadi pencampuran dengan baik, yaitu pada titik dimana limbah mengalir pada akhir proses produksi menuju ke IPAL.
2. Apabila tempat tidak memungkinkan untuk pengambilan contoh maka dapat ditentukan lokasi lain yang dapat mewakili karakteristik air limbah.
c) Titik lokasi pengambilan contoh pada outlet (titik 3, Gambar 5)
Pengambilan contoh pada outlet dilakukan pada lokasi setelah IPAL atau titik dimana air limbah yang mengalir sebelum memasuki badan air penerima (sungai).
6. Cara Pengambilan contoh untuk pengujian kualitas air
a. siapkan alat pengambil contoh sesuai dengan saluran pembuangan
b. bilas alat dengan contoh yang akan diambil, sebanyak 3 (tiga) kali
c. ambil contoh sesuai dengan peruntukan analisis dan campurkan dalam penampung sementara, kemudian homogenkan
d. masukkan ke dalam wadah yang sesuai peruntukan analisis
e. lakukan segera pengujian untuk parameter suhu, kekeruhan dan daya hantar listrik, pH dan oksigen terlarut yang dapat berubah dengan cepat dan tidak dapat diawetkan
f. hasil pengujian parameter lapangan dicatat dalam buku catatan khusus
g. pengambilan contoh untuk parameter pengujian di laboratorium dilakukan pengawetan seperti pada Lampiran B.
7. Pengambilan contoh untuk pengujian oksigen terlarut
Pengambilan contoh dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1. Cara langsung
 Gunakan alat DO meter.
 Cara pengoperasian alat, lihat petunjuk kerja alat.
 Nilai oksigen terlarut dapat langsung terbaca.
2. Cara tidak langsung
a. Cara umum
Pengukuran oksigen terlarut dilakukan dengan cara titrasi, sebagai berikut:
1) siapkan botol KOB yang bersih dengan volume yang diketahui serta dilengkapi dengan tutup asah
2) celupkan botol dengan hati-hati ke dalam air dengan posisi mulut botol searah dengan aliran air, sehingga air masuk ke dalam botol dengan tenang, atau dapat pula dengan menggunakan sifon
3) isi botol sampai penuh dan hindarkan terjadinya turbulensi dan gelembung udara selama pengisian, kemudian botol ditutup
4) contoh siap untuk dianalisa.
b. Cara khusus
Tahapan pengambilan contoh dengan cara alat khusus, dilakukan sebagai berikut:
1) siapkan botol KOB yang bersih dengan volume yang diketahui serta dilengkapi dengan tutup asah
2) masukkan botol ke dalam alat khusus
3) ikuti prosedur pemakaian alat tersebut
4) Alat pengambil contoh untuk pengujian oksigen terlarut ini dapat ditutup segera setelah terisi penuh.
C. METODE PEMERIKSAAN SUMBER AIR TANAH

Pengukuran air bawah tanah dilakukan dengan mempelajari karakteristik batuan yang mengandung air, menggunakan alat resistivity meter/terameter tipe ABEM SAS 1000 (Gambar 2). Titik penembakan dengan terameter ditentukan berdasarkan peta satuan lahan, peta geologi, dan hidrogeologi. Untuk ketepatan penentuan titik terlebih dahulu dilakukan penentuan posisi titik menggunakan GPS (Global Positioning System) selanjutnya dilakukan pengamatan dengan terameter untuk menentukan ketahanan jenis batuan dan kondisi akuifernya. Untuk melengkapi informasi dikumpulkan pula data sumur di sekitar titik pengamatan sebagai data pembanding.
.

Gambar 2. Prototipe terameter tipe ABEM SAS-1000
Upaya mengetahui potensi air bawah tanah dengan menggunakan alat terameter dikenal dengan survei geolistrik, yaitu salah satu metode geofisika untuk menduga kondisi geologi bawah permukaan, khususnya macam dan sifat batuan berdasarkan sifat-sifat kelistrikan batuan. Dari data sifat kelistrikan batuan yang berupa besaran tahanan jenis (resistivity), masing-masing dikelompokkan dan ditafsirkan dengan mempertimbangkan data kondisi geologi setempat. Perbedaan sifat kelistrikan batuan antara lain disebabkan oleh perbedaan macam mineral penyusun, porositas dan permeabilitas batuan, kandungan air,suhu,dan sebagainya. Dengan mempertimbangkan beberapa faktor di atas, dapat di interpretasikan kondisi air bawah tanah di suatu daerah.
a. Persyaratan alat pengambil contoh air tanah
Alat pengambil contoh harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi sifat contoh
2. mudah dicuci dari bekas contoh sebelumnya
3. contoh mudah dipindahkan ke dalam wadah penampung tanpa ada sisa bahan tersuspensi di dalamnya
4. mudah dan aman di bawa
5. kapasitas alat tergantung dari tujuan pengujian.
b. Jenis alat pengambil contoh air sumur bor
Salah satu contoh alat pengambil contoh air sumur bor adalah alat Bailer yang terdiri dari tabung teflon dengan ujung atas terbuka dan ujung bawah tertutup dilengkapi dengan katup ball valve.

c. Jenis alat pengambil contoh air sumur gali
Salah satu contoh alat pengambil contoh air sumur gali terdiri dari botol gelas dan stainless steel yang ujung atasnya dapat di buka tutup dan terikat tali keatas sedangkan ujung bawah tertutup dan dilengkapi pemberat di bawah.

d. Alat pengukur parameter lapangan
Peralatan yang perlu dibawa antara lain (alat lapangan sebelum digunakan perlu dilakukan kalibrasi:
a. pH meter
b. Konduktimeter
c. Termometer
d. Meteran
e. water level meter atau tali yang telah dilengkapi pemberat dan terukur panjangnya,
f. Global Positioning System (GPS).
D. METODOLOGI PEMANTAUAN KUALITAS LINGKUNGAN

Metodologi yang digunakan untuk melaksanakan pemantauan kualitas lingkungan di luar Peta Area Terdampak adalah pengamatan / pengukuran secara langsung (in situ) dengan menggunakan alat portable, seperti :
1. pH meter
pH meter digunakan untuk mengukur alkalinity dan acidity pada air, yang juga menunjukkan kadar ion hydrogen atau -log[H + ]. Ion merupakan atom atau sekumpulan atom yang mempunyai muatan listrik, bila negatif disebut anion, sebaliknya kation. Acidity di dominasi ion H + sedangkan alkalinity inon OH – . Air dengan pH>7 bersifat basa (alkaline), air dengan pH <7 bersifat acidic
2. DO (Dissolve Oxygen) meter
DO (Dissolve Oxygen) meter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur Oksigen Terlarut yang ada dalam air permukaan atau air tanah. Nilai DO bergantung pada banyaknya zat organiK dalam air dan juga pada suhu air (semakin tinggi suhu maka semakin rendah nilai DO.
3. TDS, Salinitas, dan DHL meter
TDS, Salinitas dan DHL (Daya Hantar Listrik/Electrical Conductivity) meter ini menggunakan metoda Electrical Conductivity dalam pengukurannya. Prinsip kerja Electrical Conductivity adalah dua buah probe dihubungkan ke larutan yang akan diukur, kemudian dengan rangkaian pemprosesan sinyal diharapkan bisa mengeluarkan output yang menunjukkan besar konduktifitas larutan tersebut, yang jika dikalikan dengan factor konversi maka akan kita dapatkan nilai kualitas air tersebut dalam TDS atau PPM.
4. Metode dan Peralatan dalam Pengambilan Sample Air Bersih (AB) dan Air Badan Air (ABA)
a. Peralatan yang dibutuhkan untuk pengambilan sampel :
 Air Bersih (AB)
 pH Meter
 TDS, Salinitas, dan DHL meter
 Ember kecil
 Aquadest + Botol
 Air Badan Air (ABA)
 DO Meter
 pH Meter
 TDS, Salinitas, dan DHL meter
 Ember kecil
 Aquadest + Botol
b. Metode pengambilan sampel :
 Air Bersih (AB)
 Mengambil sampleair bersih dari sumur dengan cara menimba atau melalui pompa air
 Mengukur sample air bersih dengan menggunakan alat portable, yaitu :
 pH meter
 TDS, Salinitas, dan DHL meter
 Mengukur sampel air bersih hingga angka yang ditunjukkan oleh alat-alat tersebut stabil.
 Mencatat hasil yang ditunjukkan pada monitor alat portable
 Air Badan Air (ABA)
 Mengambil sample air badan air dengan cara menimba air dari sungai menggunakan ember kecil.
 Mengukur sample air badan air dengan menggunakan alat portable, yaitu :
 DO meter
 pH meter
 TDS, Salinitas, dan DHL meter
 Mengukur sampel air badan air hingga angka yang ditunjukkan oleh alat-alat tersebut stabil.
 Mencatat hasil yang ditunjukkan pada monitor alat portable
 Gambar berikut menunjukkan peralatan portable yang dibutuhkan untuk pengambilan sample Air Bersih (AB) dan Air Badan Air (ABA).

Gambar 1. Peralatan yang diperlukan untuk sampling Air Bersih (AB) dan Air Badan Air (ABA). (a) TDS, Salinitas, dan DHL Meter, (b) pH Meter, (c) DO Meter, (d) Aquadest.

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan

Dalam Analisis Air di lapangan dilakukan dengan caa Fisika. Di samping cara – cara fisika, adapula cara – cara kimia untuk menentukan kadar Air. Mc Neil mengukur kadar air berdasarkan volume gas asetil yang dihasilkan dari reaksi kalsium karbida dengan bahan yang akan di periksa. Cara ini di pergunakan untuk bahan – bahan seperti sabun, tepung,dll. Sedangkan Karl fischer pada tahun 1935 menggunakan cara pengerigan berdasarkan reaksi kimia dengan titrasi langsungdari bahan basah dengan larutan iodine, sulfur dioksida, dan piridina dalam metanol. Perubahan warna akan menunjukan titik akhir titrasi.

B. Saran

Sebelum melakukan Analisis Air Di Lapangan, kita harus dapat menentukan lokasi pengambilan sampel, misalnya sungai, danau,dan lain-lain. Hal ini perlu ditetapkan karena untuk mengetahui perubahan kualitas air akibat aktivitas lingkungan sekitarnya.
Setelah itu menentukan frekuensi pengambilan contoh air karena pada umumnya selalu berubah dari waktu ke waktu. Setelah sampel di ambil,baru di kirik ke laboratorium. Namun, lokasi pengambilan sampel jauh perlu ditambahkan bahan pengawet. Usaha ini untuk menghambat perubahan komposisi zat – zat tertentu yang ada pada sampel tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Winarno F. G. 1997. Kimia Pangan Dan Gizi. Penerbit PT. GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA: Jakarta.

http://ripanimusyaffalab.blogspot.com/2010/01/analisis-air.html

file:///G:/KIMIA AIR/analisis-air.html
file://kimia air/pengambilan-dan-pengiriman-sampel-air.htm
file://kimia air/pengambilan-contoh-air-limbah.html
file://kimia air/Metoda Pengambilan Contoh Air Tanah Public Health Corner.htm
file://kimia air/index.php.htm

About these ads

Tentang pascal karlos

Cinta sejati adalah ketika dia mencintai orang lain, dan kamu masih mampu tersenyum, sambil berkata: aku turut bahagia untukmu. Jangan sese

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: