Pengumpan RSS

Arsip Harian: Mei 9, 2011

TRANSFUSI DARAH

Posted on

TRANSFUSI DARAH
Pemeriksaan Pre Tranfusi
Tujuan : adalah memilih darah atau komponen darah yang kompatibel, sehingga dapat menyelamatkan jiwa seseorang dengan tidak merusak sel darah merah resipien atau tidak merugikan resipien.

Prosedur Permintaan Darah
Bila memerlukan darah untuk transfusi, maka sekitar 5 – 10ml darah resipien (penerima) diambil dan dimasukkan ke dalam tabung kering untuk memastikan serum yang cukup banyak untuk melakukan uji silang serasi.
Sampel darah harus diberi pengenal yang jelas dengan nama lengkap pasien, nomor registrasi rumah sakit, serta nama bangsal, kemudian dikirim secapatnya ke laboratorium bersamaan dengan formulir permintaan darah lengkap.

Formulir Permintaan Darah
Sebaiknya disertai keterangn tentang pasien dan harus ditanda tangani oleh dokter yang merawat pasien.
Formulir permintaan darah harus berisikan informasi sebagai berikut :
1. Tanggal permintaan
2. Nama lengkap pasien
3. Tanggal lahir atau umur
4. Jenis kelamin
5. Nomor registrasi rumah sakit
6. Ruang perawatan
7. Alamat pasien
8. Diagnosis pasien
9. Golongan darah bila diketahui
10. Keberadaan setiap antibodi bila sudah diketahui
11. Riwayat transfusi sebelumnya
12. Riwayat reaksi transfusi sebelumnya bila ada
13. Jumlah dan jenis darah atau produk darah yang dibutuhkan
14. Tanggal dan waktu darah dibutuhkan
15. Tanda tangan dokter yang meminta darah

Contoh Darah
Pengambilan contoh darah pasien dengan pemberian label yang benar dari pasien yang akan ditransfusikan merupakan hal yang kritis untuk keselamatan transfusi darah. Petugas yang mengambil contoh darah harus mengidentifikasi pasien dengan membandingkan informasi yang ada di dalam formulir permintaan darah dengan informasi pada tanda pengenal pasien yang ada di rumah sakit tersebut. Masalah dapat timbul bila ada ketidakjelasan identitas pada saat pengambilan darah dan transfusi, sehingga perlu diambil contoh darah baru untuk memperjelas identitas.

Keadaan Contoh Darah
Untuk pemeriksaan pre transfusi dapat digunakan serum atau plasma. Darah yang hemolisis tidak dapat digunakan. Hemoglobin yang bebas dalam serum dapat menutupi hemolisis yang diakibatkan oleh antibodi.

Usia Contoh Darah
Uji silang serasi harus dilakukan dengan contoh darah yang diambil dalam waktu kurang dari 3 hari untuk menghindari inaktivasi komplemen dan kesalahan pendataan.

Konfirmasi Identitas Contoh Darah
Bila contoh darah sudah diterima, petugas yang berkompeten harus mengkonfirmasikan kesesuaian contoh darah dengan formulir permintaan darah. Bila ada keragu-raguan harus memperoleh contoh darah baru, tidak diperkenankan seseorang memperbaiki atau menyalahkan contoh darah.

Penyimpanan Contoh Darah
Contoh darah pasien dan donor harus ditutup dan disimpan dengan baik pada suhu 2 – 60C minimal 7 hari setelah transfusi untuk pemeriksaan ulang bila ada laporan terjadinya reaksi transfusi.

Pendataan
Setiap permintaan darah dan pemeriksaan darah harus ada pendataan yang lengkap agar dapat dilakukan penelusuran kembali bila dibutuhkan sewaktu-waktu. Pada setiap uji silang serasi harus dilakukan pendataan pemeriksaan darah sebelumnya pada pasien yang mempunyai riwayat serologis. Bila pasien pernah diperiksa sebelumnya, maka hasil pemeriksaan yang baru harus dibandingkan dengan hasil pemeriksaan sebelumnya.

Pemeriksaan Serologis
Unruk darah lengkap (whole blood) dan komponen darah lainnya seperti sel darah cuci ( washed erytrhrocyte), eritrosit konsentrat, atau trombosit konsentrat yang mengandung 5ml sel darah merah harus diuji silang serasi terlebih dahulu antara darah donor dan darah pasien.

Pemeriksaan Golongan Darah
Darah adalah suatu suspense yang terdiri atas plasma dan sel-sel darah. Antigen (aglutinogen) golongan darah terikat pada sel darah merah sedangkan antibodi (aglutinin) terdapat dalam plasma darah. Sifat golongan darah adalah diturunkan terikat somatik kromosom dan bersifat abadi. Baik antigen maupun antibodi dari golongan darah terdapat dalam darah kita dalam bentuk ketidaksesuaian. Pada golongan darah sistem ABO dibagi menjadi 4 golongan darah yaitu A, B, AB, dan O. Golongan darah A terdapat antigen A dan antibodi B, golongan darah B terdapat antigen B dan antibodi A, golongan darah AB terdapat antigen A dan B dan tidak terdapat antibodi, golongan darah O tidak terdapat antigen dan terdapat antibodi A dan B.

Tujuan Pemeriksaan
1. Menentukan adanya antigen A, B dan rhesus pada sel darah merah serta adanya antibodi A dan antibodi B pada serum atau plasma darah.
2. Untuk memastikan tidak adanya antibodi-antibodi pada darah pasien yang akan bereaksi dengan darah donor bila ditransfusikan atau sebaliknya.

 Aglutinasi adalah ikatan antara antigen dan antibodi (Ag pada sel darah merah dengan antibodi yang terdapat pada serum / plasma  gumpalan.
 Faktor-faktor yang mempengaruhi aglutinasi :
1. Konstante keseimbangan : makin tinggi konstante keseimbangan makin banyak jumlah antibodi yang mengadakan ikatan dengan antigen.
2. Temperatur : antibodi-antibodi yang berbeda mempunyai kecenderungan suhu yang berbeda pula untuk bereaksi, misalnya ada antibodi yang bereaksi baik pada suhu :
o 40C (cold antibodi), misalnya antibodi darah grup ABO
o CCC
10. Simpan pada suhu 2-6ºC,jangan digunakan bila sudah lisis
11. Validasi CCC :
- Siapkan 2 buah tabung
- Tabung 1 teteskan 2 tetes coombs serum ditambah1 tetes CCC
- Putar 3000 rpm 15 detik
- Baca hasil reaksi (2+)

VALIDASI REAGENSIA

I. Anti-A
1. Siapakan tabung sebanyak 3 buah pada sebuah rak
2. Beri label I, II,dan III
3. Isi masing-masing tabung dengan :
– Tabung I : 1 tetes sel A 5%
– Tabung II : 1 tetes sel B 5%
– Tabung II : 1 tetes sel O 5%
4. Teteskan masing-masing 2 tetes anti-A pada tabung I, II dan III
5. Kocok-kocok semua tabung hingga tercampur
6. Putar 3000 rpm selama 15 detik
7. Baca reaksi

Pembacaan Hasil
Baca reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I terjadi Agglutinasi (positf)
- Pada tabung II tidak terjadi Agglutinasi (negative)
- Pada tabung III tidak terjadi Agglutinasi (negative)

II. Anti-B
1. Siapkan tabung sebanyak 3 buah pada sebuah rak
2. Beri label I, II, dan III
3. Isi masing-masing tabung dengan :
- Tabung I : 1 tetes sel A 5%
- Tabung II : 1 tetes sel B 5%
- Tabung II : 1 tetes sel O 5%
4. Teteskan masing-masing 2 tetes anti-B pada tabung I, II dan III
5. Kocok-kocok semua tabung hingga tercampur
6. Putar 3000 rpm selama 15 detik
7. Baca reaksi

Pembacaan Hasil
Baca reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I tidak terjadi Agglutinasi (negative)
- Pada tabung II terjadi Agglutinasi (positif)
- Pada tabung III tidak terjadi Agglutinasi (negative)

III. Anti-D
1. Siapkan tabung sebanyak 2 buah pada sebuah rak
2. Beri label tabung I,dan tabung II
3. Isi masing-masing tabung dengan :
- Tabung I : 1 tetes test sel O 5% Rhesus positif
- Tabung II : 1 tetes test sel O 5% Rhesus negatif
4. Teteskan masing-masing 2 tetes anti-D pada tabung I, dan II
5. Kocok-kocok semua tabung hingga tercampur
6. Putar 3000 rpm selama 15 detik
7. Baca reaksi
Pembacaan Hasil
Baca reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I terjadi Agglutinasi (positif)
- Pada tabung II tidak terjadi Agglutinasi (negative )

IV. Test sel A Standar
1. Siapkan tabung sebanyak 2 buah pada sebuah rak
2. Beri label tabung I,dan tabung II
3. Isi masing-masing tabung dengan :
– Tabung I : 2 tetes Anti-A
– Tabung II : 2 tetes Anti-B
4. Teteskan masing-masing 1 tetes sel A Standar 5 % pada tabung I, dan II
5. Kocok-kocok semua tabung hingga tercampur
6. Putar 3000 rpm selama 15 detik
7. Baca reaksi
Pembacaan Hasil
Baca reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I terjadi Agglutinasi (positif)
- Pada tabung II tidak terjadi Agglutinasi (negative )

V. Test Sel B Standar
1. Siapkan tabung sebanyak 2 buah pada sebuah rak
2. Beri label tabung I,dan tabung II
3. Isi masing-masing tabung dengan :
– Tabung I : 2 tetes Anti-A
– Tabung II : 2 tetes Anti-B
4. Teteskan masing-masing 1 tetes sel B Standar 5 % pada tabung I, dan II
5. Kocok-kocok semua tabung hingga tercampur
6. Putar 3000 rpm selama 15 detik
7. Baca reaksi
Pembacaan Hasil
Baca reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I tidak terjadi Agglutinasi (negatif)
- Pada tabung II terjadi Agglutinasi (positif )

VI. Test Sel O Standar
1. Siapkan tabung sebanyak 2 buah pada sebuah rak
2. Beri label tabung I,dan tabung II
3. Isi masing-masing tabung dengan :
– Tabung I : 2 tetes Anti-A
– Tabung II : 2 tetes Anti-B
4. Teteskan masing-masing 1 tetes sel O Standar 5 % pada tabung I, dan II
5. Kocok-kocok semua tabung hingga tercampur
6. Putar 3000 rpm selama 15 detik
7. Baca reaksi

Pembacaan Hasil
Baca reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I tidak terjadi Agglutinasi (negative )
- Pada tabung II tidak terjadi Agglutinasi (negative )

VII. Coombs Serum (AHG)
1. Siapkan tabung sebanyak 4 buah pada sebuah rak
2. Beri label tabung I, II, IIIdan tabung IV
3. Isi masing-masing tabung dengan :
– Tabung I : 1 tetes test sel CCC
– Tabung II : 1 tetes test sel A 5%
– Tabung III : 1 tetes test sel B 5%
– Tabung IV : 1 tetes test sel O 5%
4. Cuci keempat tabung dengan saline sebanyak 3x
5. Teteskan masing-masing 2 tetes AHG pada tabung I, II,III dan IV Kocok-kocok semua tabung hingga tercampur
6. Putar 3000 rpm selama 15 detik
7. Baca reaksi
Pembacaan Hasil
Baca reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I terjadi Agglutinasi (positif)
- Pada tabung II tidak terjadi Agglutinasi (negative )
- Pada tabung III tidak terjadi Agglutinasi (negative )
- Pada tabung IV tidak terjadi Agglutinasi (negative )

VIII. Bovine Albumin 22%
1. Siapkan tabung sebanyak 3 buah pada sebuah rak
2. Beri label tabung I, IIdan tabung III
3. Isi masing-masing tabung dengan :
– Tabung I : 1 tetes test sel A 5%
– Tabung II : 1 tetes test sel B 5%
– Tabung III : 1 tetes test sel O 5%
4. Teteskan masing-masing 2 tetes Bovine Albumin 22% pada tabung I, II dan III
5. Kocok-kocok semua tabung hingga tercampur
6. Putar 3000 rpm selama 15 detik
7. Baca reaksi,bila ketiga tabung negative,lanjutkan
8. Inkubasi 37ºC selama 15 menit
9. Putar 3000 rpm selama 15 detik
10. Baca hasil
Pembacaan Hasil
Baca reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I tidak terjadi Agglutinasi (negative )
- Pada tabung II tidak terjadi Agglutinasi (negative )
- Pada tabung II tidak terjadi Agglutinasi (negative )

IX. Coombs Control Cells
1. Siapkan tabung sebanyak 2 buah pada sebuah rak
2. Beri label tabung I,dan tabung II
3. Isi masing-masing tabung dengan :
– Tabung I : 2 tetes Coombs serum (AHG)
– Tabung II : 2 tetes Saline
4. Teteskan masing-masing 1 tetes CCC pada tabung I, dan II
5. Kocok-kocok semua tabung hingga tercampur
6. Putar 3000 rpm selama 15 detik
7. Baca reaksi
Pembacaan Hasil
Baca reaksi dengan mengocok tabung perlahan-lahan
- Pada tabung I terjadi Agglutinasi (positif)
- Pada tabung II tidak terjadi Agglutinasi (negative )

TEST VALIDASI REAGEN ANTI-A, ANTI-B, ANTI-D
Metode Bloodgrouping Plate

Reagen Anti-A
Indentitas Anti-A 2 tts Anti-A +
1 tts Susp sel A 10% 2 tetes Anti-A +
1 tetes Susp sel B 10% 2 tetes Anti-A +
1 tetes Susp sel O 10%
Goyang palte ke depan dan ke belakang hingga tercampur rata
Hasil Reaksi

Reagen Anti-B
Identitas Anti-B 2 tts Anti-B +
1 tts Susp A 10% 2 tetes Anti-B +
1 tetes Susp sel B 10% 2 tetes Anti-B +
1 tetes Susp sel O 10%
Goyang palte ke depan dan ke belakang hingga tercampur rata
Hasil Reaksi

Reagen Anti-D
Identitas
Anti-D IgM 2 tts Anti-D IgM + 1 tts Susp sel A 10% 2 tetes Anti-D IgM + 1 tetes Susp sel B 10% 2 tetes BA 22% + 1 tetes Susp sel A 10% 2 tetes BA 22% + 1 tetes Susp sel B 10%
Goyang palte ke depan dan ke belakang hingga tercampur rata
Hasil Reaksi Hasil Validasi
Anti-A : valid / tidak valid No. Lot/Exp Anti-A :
Anti-B : valid / tidak valid No. Lot/Exp Anti-B :
Anti-D : valid / tidak valid No. Lot/Exp Anti-D :
Bovine Albumine : No. Lot/Exp BA :
Test Cell Standar A 10% :
Test Cell Standar B 10% :
Test Cell Standar O 10 % :
Tanggal Pemeriksaan :

Nama Pemeriksa :
Dicek oleh :

TEST VALIDASI REAGEN BOVINE ALBUMINE 22% & ANTI HUMAN GLOBULIN
UNIT TRANSFUSI DARAH PEMBINA

Validasi Bovine Albumine 22% 1 tts susp sel A 5% 2 tts BA 22% 1 tts susp sel B 5% 2 tts BA 22% 1 tts susp sel O 5% 2 tts BA 22%
Kocok agar homogeny kemudian inkubasi pada suhu 370C 15 menit
Putar 3000 rpm selama 15 detik baca reaksi

Hasil Pemeriksaan
Validasi Anti Human Globulin Cuci 3 kali dengan saline kemudian reaksi dilanjutkan dengan
Menambahkan kedalam masing-masing tabung 2 tetes Anti Human Globulin Kocok perlahan – lahan, kemudian putar 3000 rpm selama 15 detik Baca reaksi
Hasil Pemeriksaan
Coombs Control Cells (CCC)
Kontrol semua tabung bila hasil pemeriksaan negative dengan CCC
Tambahkan kedalam masing-masing tabung dengan 1 tetes CCC
Kocok perlahan-lahan, kemudian putar 3000 rpm selama 15 detik Baca reaksi

Hasil Pemeriksaan

Test Validasi
BA 22% : valid / tidak valid No. Lot/Exp BA :
Anti Human Globulin : valid / tidak valid No. Lot/Exp AHG :

Tanggal Pemeriksaan : Test Cell Standat A 5% :
Test Cell Standar B 5% :
Test Cell Standar O 5% :
Commbs Control Cells :

Nama Pemeriksa : Dicek oleh :

Keterangan :
Untuk test validasi AhG hanya dengan dapat dilakukan, bila hasil Bovine Albumine 22% bail/valid

PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH
ABO DAN RHESUS

Pemeriksaan :
1. Cell grouping / cell typing
Memeriksa antigen sel darah merah dengan cara menambahkan anti-A, anti-B monoclonal
2. Serum grouping / serum typing
Memeriksa antibodi dalam serum / plasma dengan cara mereaksikannya dengan sel golongan A, B, dan O.
3. Auto kontrol
Memeriksa antibodi dalam serum dengan cara mereaksikan dengan sel darah merahnya sendiri.
Metode : Aglutinasi / Tube Test
Prinsip : Antigen + Antibodi = aglutinasi

Reagensia
• Tes Sera Anti-A
• Tes Sera Anti-B
• Tes Sera Anti-D
• Tes Sel A 5%
• Tes Sel B 5%
• Tes Sel O 5%
• Bovine Albumin 22%
• Saline

Alat :
• Waterbath
• Centrifuge
• Mikroskop
• Alat penghitung waktu
• Rak tabung
• Tabung reaksi ukuran 12×75 mm
• Pipet platik 1 ml
• labu semprot
• Gelas Pembilas
• Wadah limbah

Persiapan Reagensia
• Biarkan reagensia pada suhu kamar
• Catat Batch No. (Lot..No) dan tanggal kadaluarsa

Cara Kerja

1. Siapkan lubang plate reaksi sebanyak 8 buah pada sebuah rak
• Beri label tabung 1 : -A
• Beri label tabung 2 : -B
• Beri label tabung 3 : EA
• Beri label tabung 4 : EB
• Beri label tabung 5 : EO
• Beri label tabung 6 : AC
• Beri label tabung 7 : -D
• Beri label tabung 8 : B.AIb

2. Isi masing-masing tabung dengan :
• Tabung 1 : 2 tetes Tes Sera Anti-A
• Tabung 2 : 2 tetes Tes Sera Anti-B
• Tabung 3 : 1 tetes Tes Sel A 5%
• Tabung 4 : 1 tetes Tes Sel B 5%
• Tabung 5 : 1 tetes Tes Sel O 5 %
• Tabung 6 : 1 tetes Suspensi sel os/donor 5%
• Tabung 7 : 2 tetes Anti-D
• Tabung 8 : 2 tetes Bovine Albumin 22%
3. Teteskan masing-masing 1(satu) tetes sel darah merah pasien suspensi 5% pada tabung 1, 2, 6, 7 dan 8
4. Teteskan masing-masing 2(dua) tetes serum / plasma pasien pada tabung : 3, 4,5 dan 6
5. Kocok-kocok semua tabung hingga tercampur.
6. Putar pada 3000 rpm selama 15’’- 20’’.inkubasi pada suhu kamar selama 60’
7. Baca hasil reaksi ;

PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH ABO DAN RHESUS

Metode : Slide dengan blood grouping plate
Prinsip : Antigen + Antibodi = aglutinasi

Reagensia
• Tes Sera Anti-A
• Tes Sera Anti-B
• Tes Sera Anti-D
• Tes Sel A 10%
• Tes Sel B 10%
• Tes Sel O 10%
• Bovine Albumin 22%
• Saline

Alat :
• Waterbath
• Centrifuge
• Mikroskop
• Alat penghitung waktu
• Rak tabung
• Tabung reaksi ukuran 12×75 mm
• Pipet plaStik 1 ml
• labu semprot
• Slide test
• Bioplate
• Gelas Pembilas
• Wadah limbah

Persiapan Reagensia
• Biarkan reagensia pada suhu kamar
• Catat Batch No. (Lot..No) dan tanggal kadaluarsa
Cara Kerja
1. Siapkan satu buah plate
• Beri label pada sumur plate 1 : -A
• Beri label pada sumur plate 2 : -B
• Beri label pada sumur plate 3 : EA
• Beri label pada sumur plate 4 : EB
• Beri label pada sumur plate 5 : EO
• Beri label pada sumur plate 6 : AC
• Beri label pada sumur plate 7 : -D
• Beri label pada sumur plate 8 : B.AIb
2. Isi masing-masing sumur plate dengan :
• sumur plate 1 : 2 tetes Tes Sera Anti-A
• sumur plate 2 : 2 tetes Tes Sera Anti-B
• sumur plate 3 : 1 tetes Tes Sel A 10%
• sumur plate 4 : 1 tetes Tes Sel B 10%
• sumur plate 5: 1 tetes Tes Sel O 10 %
• sumur plate 6: 1 tetes Suspensi sel os/donor 10%
• sumur plate 7: 2 tetes Anti-D
• sumur plate 8: 2 tetes Bovine Albumin 22%
3. Teteskan masing-masing 1(satu) tetes sel darah merah pasien/DN suspensi 10 % pada sumur plate 1, 2, dan\ 6
4. Teteskan masing-masing 2(dua) tetes serum / plasma pasien/DN padasumur plate : 3, 4, 5,dan 6
5. Teteskan masing-masing 1 tetes sel darah merah pasien/DN suspensi 40 % pada plate 7 dan 8
6. Kocok-kocok plate ke depan dan ke belakang hingga tercampur, amati reaksi aglutinasi yang terjadi.

PEMBACAAN HASIL ;
1. Bila pada sel darah merah sample terjadi ;
• Aglutinasi : ada antigen padasel darah merah
• Tidak terjadi Aglutinasi : tidak ada antigen padasel darah merah
2. Bila dalam serum / plasma terjadi :
• Aglutinasi : ada antibodi dalam serum / plasma
• Tidak terjadi Aglutinasi : tidak ada antibodi dalam serum / plasma
3. TENTUKAN DERAJAT AGLUTINASI ;
• + + + + (4 +) : Gumpalan besar dengan cairan jernih disekitarnya
• + + + (3 +) : Sebagian sel bergumpal besar dengan cairan jernih disekitarnya
• + + (2 +) : Gumpalan agak besar dengan cairan agak merah disekitarnya
• + (1+) : Gumpalan kecil dengan cairan merah disekitarnya
• ± (+w) : Gumpalan tidak terlihat jelas,harus dengan bantuan mikroskop
• Lisis : Suspensi sel darah berwarna merah jernih
• -/o ( Negatif) : Tersuspensi / Homogen

HASIL :

NO
SEL GROUPING
SERUM GROUPING
AUTO CONTROL
GOL.DARAH
Anti A Anti B Sel A Sel B Sel O
1 3+ - - 2+ - - A
2 - 3+ 2+ - - - B
3 - - 2+ 2+ - - O
4 3+ 3+ - - - - AB
5 2+ - 2+ 2+ - - Subgroup A
6 m.f.+ - 2+ 2+ - - Subgroup A3
7 - - + 2+ 2+ - Bukan O
8 - - 2+ 3+ 3+ - O h
9 m.f.t.+ - 3+ 3+ - +/- Mix
10 + + 2+ 2+ 2+ +s ?
11 2+ - - - - - A?
12 - - - - - - O bayi

KETERANGAN

No. 1 s/d 4 : Hasil pemeriksaan lazim dijumpai sesuai dengan hokum Landstainer
No. 5 s/d 12 : Tampak adanya penyimpangan
No. 5 dan 6 : Perlu dilengkapi sel grouping dengan Anti-A1
No 8 : Perlu dilengkapi pemeriksaan substance dalam saliva
No. 9 : Perlu dilengkapi sel grouping dengan Anti-H
No. 10 : Darah penderita post transfusi lain golongan
No. 11 : Darah penderita yang mengandung cold Auto Agglutinin
: Golongan darah belum dapat ditetapkan
No 12 dan 13 : Tidak ada regular anti bodi,reaksi ini dapat terjadi pada darah bayi, darah
orang hypogammaglobulinanemia,orang yang sangat usia lanjut

KESIMPULAN HASIL :

1. Bila terjadi aglutinasi pada Anti-A dan test Sel –B maka golongan darah pasien adalah A
2. Bila terjadi aglutinasi pada Anti-B dan test Sel –A maka golongan darah pasien adalah B
3. Bila terjadi aglutinasi pada Anti-A dan Anti-B dan tidak terjadi aglutinasi pada test sel-A dan test sel-B maka golongan darah pasien adalah AB
4. Bila tidakterjadi aglutinasi pada Anti-A dan Anti-B dan terjad aglutinasi pada test sel-A dan test sel-B maka golongan darah pasien adalah O
5. Tes Sel-O dan auto Kontrol harus negative
6. Bila terjadi aglutinasi pada test sel O,diduga sample adalah golongan darah Bombay,atau ada antibodi lain..? lanjutkan pemeriksaan
7. Bila terjadi aglutinasi pada Anti-D,maka golongan darah sample yang diperiksa adalah Rhesus positif ( D+)
8. Bila tidak terjadi aglutinasi pada Anti-D,maka golngan darah sample yang diperiksa adalah Rhesus negative (Rh negative)

PEMERIKSAAN UJI SILANG SERASI ( CROSSMATCHING )

1. Prinsip :
Antibodi yang terdapat dalam serum / plasma,bila direaksikan dengan antigen pada sel darah merah,melalui inkubasi pada suhu 37ºC dalam waktu tertentu,dan dengan penambahan anti monoglobulin akan terjadi reaksi aglutinasi.

2. Metode :
1. Aglutinasi
2. Gel test

3. Reagensia :
A. Metode Aglutinasi
1. Saline / NaCl 0,9%
2. Bovine Albumin 22%
3. Coombs serum
4. Coombs Control Cells.

B. Metoda Gel Test
1. ID Liss ( Coombs card )
2. ID Diluent -2

4. Peralatan :
A. Metode Aglutinasi
1. Tabung gelas ukuran 12×75 mm
2. Inkubator ( Waterbath) 37ºC
3. Sentrifuge
4. Objekgelass
5. Mikroskop
6. Pipet Pasteur
7. Labu Semptrot

B. Metode Gel Test
1. ID Centrifuge
2. ID incubator
3. Micropipet
4. ID Dispenser
5. Yellow Tips

UJI SILANG SERASI UNTUK 1 DONOR

Phase I : Phase suhu kamar didalam saline medium

1. Ambil 3 buah tabung ukuran 12×75,masukkan kedalam masing-masing tabung

2. Campur hingga homogen ,putar 3000 RPM selama 15 detik ,
3. Baca reaksi terhadap hemolisis dan aglutinasi secara makroskopis

Phase II : Phase Inkubasi 37ºC dalam medium bovine albumin 22%
- Kedalam masing-masing tabung tambahan bovine albumin 22%
- Kocok-kocok
- Inkubasi 37ºC selama 15 menit
- Putar 3000 rpm selama 15 detik
- Baca reaksi terhadap hemolisis dan aglutinasi secara makroskopis.bila negative lanjutkan ke phase III

Phase III : (Indirect Coombs Test)
- Cuci sel darah merah dalam tabung 3 kali dengan saline
- Tambahkan kedalam setiap tabung 2 tetes Coombs serum
- Kocok isi tabung hingga tercampur rata putar 3000 rpm selama 15 detik
- Baca hasil reaksi secara makroskopis dan mikroskopis

Validitas :
- Kepada tabung yang hasil coombs testnya Negatif tambahkan 1 tetes CCC(Coombs control Cell)
- Putar 3000 rpm selama 15 detik
- Baca hasil : POSITIF : Reaksi silang Valid
NEGATIF : Reaksi silang tidak Valid

Chek List & Lembar Kerja Pemeriksaan Uji Silang Serasi
Pemeriksaan Golongan Darah ABO & Rhesus Metode Tube Test
Identitas Pasien/Donor Sel Grouping Serum Grouping Auto Kontrol Rhesus Faktor Jam
1 tts sel 5% 1 tts sel 5 % 2 tts serum 2 tts serum 2 tts serum 2 tts serum 1 tts sel 5% 1 tts sel 5%
2 tts Anti-A 2 tts Anti-B 1 tts sest sel A 5% 1 tts sest sel B 5% 1 tts sest sel O 5% 1 tts sest sel 5% 2 tts Anti-D 2 tts Boving Albumin 22%
OS :
DN :

Kocok-kocok hingga tercampur rata, putar 3000 rpm 15-20 detik  Baca Reaksi

Pemeriksaan Golongan Darah ABO & Rhesus Metode Plate

Identitas Pasien/Donor Sel Grouping Serum Grouping Auto Kontrol Rhesus Faktor Jam
1 tts sel 10% 1 tts sel 10 % 2 tts serum 2 tts serum 2 tts serum 2 tts serum 1 tts sel 40% 1 tts sel 40%
2 tts Anti-A 2 tts Anti-B 1 tts sest sel A 10% 1 tts sest sel B 10% 1 tts sest sel O 10% 1 tts sest sel 10% 2 tts Anti-D 2 tts Boving Albumin 22%
OS :
DN :

Kocok-kocok hingga tercampur rata, putar 3000 rpm 15-20 detik  Baca Reaksi

Pemeriksaan Uji Silang Serasi
Mayor I Mayor II Mayor III Minor I Minor II Minor III Auto Kontrol Auto Pool Jam
F
A
S
E

I
2 tts serum Os 2 tts serum OS 2 tts serum OS 2 tts plasma Donor – I 2 tts plasma Donor – II 2 tts plasma Donor – III 2 tts serum OS 2 tts pool Plasma Donor
2 tts sel Donor – I 5% 1 tts sel Donor – II 5% 1 tts sel donor – II 5% 1 tts sel OS 5% 1 tts sel OS 5% 1 tts sel OS 5% 1 tts sel OS 5% 1 tts pool donor 5 %
Kocok-kocok hingga tercsampur Rata

Putar 3000 rpm selama 15-20 detik  Baca reaksi

F
A
S
E

II 2 tts Bo. Alb.
22%
2 tts Bo. Alb. 22% 2 tts Bo. Alb. 22% 2 tts Bo. Alb. 22% 2 tts Bo. Alb. 22% 2 tts Bo. Alb. 22% 2 tts Bo. Alb. 22% 2 tts Bo. Alb. 22%
Kocok-kocok hingga tercampur Rata, Inkubasi 370C selama 15 menit

Putar 3000 rpm selama 15-20 detik  Baca Reaksi

Cuci dengan saline sebanyak 3x

F
A
S
E

III 2 tts AHG 2 tts AHG
2 tts AHG
2 tts AHG
2 tts AHG
2 tts AHG
2 tts AHG
2 tts AHG

Kocok-kocok hingga terca20 detik  campur rata

Putar 3000 rpm selama 15-20 detik  Baca Reaksi makroskopis dan moikroskopis

Bila hasil Negatif tambahkan 1 tetes CCC, kocok-kocok, putar 3000 rpm,
selama 15-20 detik  Baca Reaksi

Nama Pemeriksa : Validasi :
Tanggal :
No. Lot/ED Test Sera A : Test Sera :
No. Lot/ED Test Sera B : Test Sera : Test Sel A :
No. Lot/ED Test Sera C : Test Sera : Test Sel B :
No. Lot/ED B. Albumin : Test B. Albumin : Test Sel O :
No. Lot/ED A.H.G : A.H.G : C.C.C. :
Dicek Oleh : Dicek Oleh :

Uji Silang Serasi Terhadap Lebih dari satu donor
( Misalnya : 3 kantong darah donor )
A. Phase I
1. Siapkan 8 buah tabung ukuran12x75mm,kedalam masing-masing tabung
Masukkan :
 Tabung I : Mayor I : 2 tetes serum/plasma PASIEN dan tambahkan 1 tetes SDM 5% DONOR 1
 Tabung II : Mayor II :2 tetes serum/plasma PASIEN dan tambahan 1 tetes SDM 5% DONOR 2
 Tabung III : Mayor III : 2 tetes serum/plasma PASIEN dan tambahan 1 tetes SDM 5% DONOR 3
 Tabung IV : Minor I : 2 tetes serum/plasma DONOR 1 dan tambahkan 1 tetes SDM 5% PASIEN
 Tabung V : Minor II : 2 tetes serum/plasma DONOR 2 dan tambahkan 1 tetes SDM 5% PASIEN
 Tabung VI: Minor III : 2 tetes serum/plasma DONOR 3 dan tambahkan 1tetes SDM 5% PASIEN
 Tabung VII : Auto kontrol: 2 tetes serum/plasma pasien dan tambahkan 1 tetes SDM 5% pasien .
 Tabung VIII: Auto Pool : 2 tetes pool \serum/plasma DONOR I,II,III dan tambahkan 1 tetes pool SDM 5% DONOR I,II,III
2. Kocok-kocok tabung hingga tercampur,kemudian putar 3000 rpm selama 15 detik
3. Baca reaksinya terhadap hemolisis dan atau aglutinasi secara makroskopis
4. Pembacaan hasil :
– Tidak ada aglutinasi : lanjutkan ke Phase II
– Ada aglutinasi : tidak cocok / incompatible

Lanjutkan ke Phase II

B. Phase II ; Phase inkubasi 37ºC dalam medium bovine Albumin
1. Tambahkan kedalam setiap tabung 2 tetes bovine Albumin 22%
2. kocok isi tabung dan inkubasi pada suhu 37ºC selama 15 menit.
3. Putar 3000 rpm selama 15 detik
4. Baca reaksinya terhadap hemolisis dan atau aglutinasi secara makroskopis
5. Pembacaan hasil
Tidak ada aglutinasi : lanjutkan ke Phase III
Ada Aglutinasi : tidak cocok / inkompatibel Lanjutkan Phase III

C. Phase III : Phase Antiglobulin Test ( Fase AHG )
1. Cuci sel darah merah dalam tabung 3x dengan saline
2. Tambahkan kedalam tiap tabung 2 tetes coombs serum
3. Kocok isi tabung dan putar 3000 rpm selama 15 detik
4. Baca hasil reaksi secara makroskopis dan mikroskopis
5. Pembacaan hasil
Tidak : - Hemolisis
- Aglutinasi
cocok / compatible darah boleh diberikan kepada pasien
Terjadi : - Hemolisis
- Aglutinasi
tidak cocok /incompatible darah tidak boleh
diberikan kepada pasien
Validasi

Semua hasil di coombs test negatif masing-masing tabung :
1. Tambahkan 1 tetes coombs Control cell(CCC)
2. Kocok-kocok semua tabung
3. Putar 3000 rpm selama 15 detik
4. Pembacaan hasil
- Aglutinasi : Hasil pemeriksaan benar
- Tidak terjadi Aglutinasi : hasil pemeriksaan perlu diulang kembali
1. UJI SILANG SERASI TERHADAP 1 ORANG DONOR METODE GELL TEST

1.1. Siapkan ID Liss /Coombs card
1.2. Buka penutupnya
1.3. Masukkan kedalam masing-masing micro tube
- Microtube I → Mayor test : dengan micropipet masukkan 50 ul sel donor suspensi 1% dan denganmicropipet tambahan 25 ul serum pasien
- Microtube II → Minor test : dengan micropipet masukkan 50 ul sel suspensi 1% dan dengan micropipet tambahan 25 ul Plasma donor
- Microtube III → Auto Control : dengan micropipet masukkan 50 ul sel pasien suspensi 1% dan denganmicropipet tambahan 25 ul serum pasien
1.1. Inkubasi pada ID incubator suhu 37ºC selama 15 menit
1.2. Putar dalam ID centrifuge.
1.3. Baca hasil reaksi secara makroskopis
1.4. Pembacaan hasil
- Tidak hemolisis / aglutinasi → cocok / compatible.Darah boleh diberikan pasien
- Terjadi hemolisis / aglutinasi → TIDAK cocok / incompatible.Darah tidak boleh diberikan kepada pasien

2. UJI SILANG SERASI TERHADAP LEBIH DARI SATU DONOR
( Misalnya 3 kantong donor)
2.1. Siapkan ID Liss/Coomb card
2.2. Buka penutupnya
2.3. Masukkan kedalam masing-masing microtube
- Miicrotube I >Mayor test : dengan micropipet masukkan 50 ul sel donor I suspensi 1% dan dengan micropipet tambahan 25 ul serum pasien
- Miicrotube II >Mayor test : dengan micropipet masukkan 50 ul sel donor II suspensi 1% dan dengan micropipet tambahan 25 ul serum pasien
- Miicrotube III >Mayor test : dengan micropipet masukkan 50 ul sel donor III suspensi 1% dan dengan micropipet tambahan 25 ul serum pasien
- Miicrotube IV >Minor test : dengan micropipet masukkan 50 ul sel pasien suspensi 1% dan dengan micropipet tambahan 25 ul plasma donor I
- Miicrotube V > Minor test : dengan micropipet masukkan 50 ul sel pasien suspensi 1% dan dengan micropipet tambahan 25 ul plasma donor II
- Miicrotube VI > Minor test : dengan micropipet masukkan 50 ul sel pasien suspensi 1% dan dengan micropipet tambahan 25 ul plasma donor III
- Miicrotube VII >Auto control : dengan micropipet masukkan 50 ul sel pasien suspensi 1% dan dengan micropipet tambahan 25 ul serum pasien
- Miicrotube VIII >Auto Pool : dengan micropipet masukkan 50 ul pool sel donor 1% dan dengan micropipet tambahan 25 ul pool plasma donor
Inkubasi pada ID incubator suhu 37ºC selama 15 menit
2.4. Putar dalam ID Centrafuge
2.5. Baca hasil reaksi secara makroskopis
2.6. Pembacaan hasil
Tidak hemolisis /aglutinasi > cocok /compatible,Darah boleh diberikan kepada pasien
Terjadi hemolisis /aglutinasi > tidak cocok /incompatible,Darah tidak boleh diberikan
kepada pasien

Tabel Tingkatan Reaksi

Negatif : Seluruh sel menembus / melewati jel dan menbentuk endapan pada bagian dasar
microtube
Positif 1 : Seluruh sel beraglutinasi dalam media jel dan kepekaan aglutinasi dapat berpusat
pada bagian dasar microtube
Positif 2 : Seluruh sel beraglutinasi dalam media jel dan aglutinasi dapat dilihat memanjang
pada seluruh bagian microtube
Positif 3 : Seluruh sel beraglutinasi dalam media jel dan kepekaan aglutinasi terlihat hampir /
mendekati bagian permukaan atas microtube
Positif 4 : Seluruh sel beraglutinasi dan letak aglutinasi terdapat pada permukaan atas
microtube ( lapisan atas microtube)
MF : Sebagian sel beraglutinasi dan terdapat pada bagian atas microtube,sebagian
(Mixed field) lagi terletak pada bagian dasar microtube mengendap tak beraglutinasi

INTRUKSI KERJA PERSIAPAN SAMPEL

1. Lihat apakah formulir penerimaan sample sudah dilengkapi
- Identitas sample sudah benar
- Jenis sample sesuai dengan jenis pemeriksaan yang akan dilakukan
- Volume sample sesuai dengan volume yang dibutuhkan untuk pemeriksaan
- Kondisi sample baik / tidak
2. Catat kedalam buku penerimaan sample
3. Lakukanpersiapan contoh darah
- pisahkan serum /plasma dari sel darah merah
- Lakukan pencucian sel darah merah
- Lakukan pembuatan suspensi sel darah merah
- Cocokkan kembali identitas contoh darah tersebut dengan lembar kerja pemeriksaan sample

Pemeriksaan Direck Coombs Test
Tujuan : Menetapkan ada / tidak adanya antibodi yang coated pada sel darah merah pasien
Metode : Aglutinasi langsung
Reagensia :
1. Anti human globulin / coombs serum
2. Saline
3. Coombs control cell
Bahan : Suspensi SDM 5%
Peralatan :
1. Centrifuge
2. Mikroskop
3. Rak tabung
4. Tabung serologis
5. Pipet Pasteur
6. Labu semprot
7. Slide test
8. Gelas pembilas
Persiapan reagensia :
1. Biarkan reagen pada suhu kamar
2. Catatan BATCH no. (lot nomor) dan tanggal kadaluarsa
Cara Kerja :
1. Siapkan 2 buah tabung reaksi, identitas tabung 1 dan tabung 2
2. Tambahkan masing-masing tabung dengan 1 tetes suspense SDM 5% darah pasien
3. Cuci 3 kali, putar 3000 rpm 1 menit
4. Buang supernatannya
5. Tambahkan 2 tetes coombs serum ke dalam tabung 1
6. Tambahkan 2 tetes saline ke dalam tabung 2
7. Putar 3000 rpm 15 detik
8. Baca hasilnya terhadap aglutinasi
9. Hasil pembacaan :

Lembar Kerja Pemeriksaan Direk Coomb’s Test
Tabung I Tabung II
1 tetes sel OS 5% 1 tetes sel OS 5%

Cuci dengan saline sebanyak 3x
2 tetes AHG 2 tetes Saline

Kocok-kocok, putar 3000 rpm selama 15 detik  baca reaksi

Nama Pemeriksa : Test Validasi :
Tanggal :
Coombs serum :
Coombs Control Cell :
Dicek Oleh :
Penanggung Jawab :

PRINSIP TEST GOLONGAN DARAH

1. Gol darah A > SDM mengandung Antigen A
> Serum /Plasma mengandung Antibodi B
2. Gol darah B > SDM mengandung Antigen B
> Serum / Plasma mengandung Antibodi A
3. Gol darah AB > SDM mengandung Antigen A Dan Antigen B
> Serum / Plasma tidak mengandung Antibodi
4. Gol darah O > SDM tidak mengandung Antigen
> Serum / Plasma mengandung Antibodi A dan Antibodi B

sumber : penuntun praktikum serologi golongan darah. Rosita S.Si 2011

“JENIS-JENIS NAPZA DAN PERMASALAHANNYA”

Posted on

JENIS-JENIS NAPZA
DAN PERMASALAHANNYA

Istilah
NAPZA, NAZA, Narkoba, Narkotika , Madat dan Obat terlarang
 tidak terbatas golongan obat à “zat” atau subtances
 menimbulkan ketergantungan à zat adiktif (kecanduan)
 mengubah aktivitas otak à zat psikoaktif

NAPZA
(Narkotika, Psikotropika dan zat adiktif lainnya)
 bahan/zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh terutama susunan saraf pusat/otak, sehingga menyebabkan gangguan fisik, psikis dan fungsi sosial.
 mengacu kepada Narkotika dan Psikotropika
 Undang-undang No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika dan
 Undang-undang No.22 tahun 1997 tentang Narkotika

Istilah lain
Narkoba: Narkotika dan Obat/Bahan berbahaya
 populer di masyarakat, media dan aparat hukum
Madat: candu (suatu golongan opioid)

Jenis NAPZA
dibagi berdasarkan
 Undang-Undang
 Efeknya terhadap Susunan Syaraf Pusat
 Yang terdapat di masyarakat serta akibat pemakaiannya
 Penggunaan dalam Bidang Medik
UU No 22 tahun 1997
tentang Narkotika
Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman
baik sintetis maupun semisintetis
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Penggolongan:
Golongan I :
 digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan,
 tidak ditujukan untuk terapi
 potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan,
 Contoh: heroin/putauw, kokain, ganja

Golongan II:
 berkhasiat pengobatan, sebagai pilihan terakhir
 digunakan dalam terapi atau pengembangan ilmu pengetahuan
 potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan
 Contoh: morfin, petidin

Golongan III:
 berkhasiat pengobatan
 banyak digunakan dalam terapi atau pengembangan ilmu pengetahuan
 potensi ringan mengakibatkan ketergantungan
 Contoh: kodein

Narkotika yang sering disalahgunakan:
Opiat: morfin, heroin (putauw), petidin, candu, dan lain-lain
Ganja atau kanabis, mariyuana, hashis
Kokain, yaitu serbuk kokain

UU No. 5 tahun 1997
tentang Psikotropika
Zat atau obat, alamiah maupun sintetis bukan narkotika
berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Penggolongan:
GOLONGAN I:
 digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan
 tidak digunakan dalam terapi
 potensi amat kuat mengakibatkan ketergantungan.
 Contoh: ekstasi, shabu, LSD

GOLONGAN II:
 tujuan ilmu pengetahuan
 berkhasiat pengobatan, dapat digunakan dalam terapi,
 potensi kuat mengakibatkan ketergantungan.
 Contoh: amfetamin, metilfenidat atau ritalin

GOLONGAN III :
 berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi
 tujuan ilmu pengetahuan
 potensi sedang mengakibatkan ketergantungan
 Contoh: fenobarbital, flunitrazepam

GOLONGAN IV
 berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi
 untuk tujuan ilmu pengetahuan
 potensi ringan mengakibatkan ketergantungan
 Contoh: diazepam, bromazepam, fenobarbital, klonazepam, klordiazepoxide, nitrazepam, seperti pil BK, pil Koplo, Rohipnol, Dumolid, Mogadon

Psikotropika yang sering disalahgunakan:
Psikostimulansia: amfetamin, ekstasi, shabu
Sedatif dan Hipnotika (obat penenang dan obat tidur): Mogadon (MG), BK, Dumolid (DUM), Rohypnol (Rohyp), Lexotan (Lexo), Pil koplo dan lain-lain
Halusinogen: Lysergic Acid Diethylamide (LSD), Mushroom

ZAT ADIKTIF LAIN
 bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif selain yang disebut Narkotika dan Psikotropika, meliputi:
Alkohol
 Keppres No. 3 tahun 1997 tentang Pengawasan dan Pengendalian Minuman Beralkohol.
 mengandung etanol (etil alkohol), menekan susunan syaraf pusat.
 Merupakan gaya hidup atau bagian dari budaya.

3 golongan minuman beralkohol
A : etanol 1-5%, (Bir)
B : etanol 5-20%, (Jenis-jenis minuman anggur)
C : etanol 20-45%, (Wiski, Vodka, TKW, Manson House, Johny Walker, Kamput)

Jenis alkohol lain
 metanol:
 spiritus à desinfektan, zat pelarut atau pembersih
 disalahgunakan à berakibat fatal meskipun dalam konsentrasi rendah.

Inhalansia (gas yang dihirup) Solven (zat pelarut)
 mudah menguap
 senyawa organik (benzil alkohol),
 terdapat pada:
 barang keperluan rumah tangga,
 kantor
 pelumas mesin,
 sering disalah gunakan
Contoh: Lem, tiner, penghapus cat kuku, bensin.

Tembakau
 Pemakaian sangat luas di masyarakat.
 Kadar nikotin yang bisa diserap oleh tubuh per batangnya 1-3 mg.
 Dosis letal: 60 mg nikotin sekali pakai.
Pemakaian ROKOK dan ALKOHOL terutama pada remaja, pintu masuk penyalahgunaan NAPZA
Kafein
zat stimulansia
dapat menimbulkan ketergantungan jika dikonsumsi melebihi 100 mg /hari atau lebih dari dua cangkir kopi
ketergantungan psikologis.
Minuman energi sering kali menambahkan kafein dalam komposisinya.

Klasifikasi lain:
Sama sekali dilarang
 narkotika golongan I dan psikotropika golongan I
Penggunaan dengan resep dokter
 amfetamin, sedatif hipnotika
Diperjual belikan secara bebas
 lem, tinner, rokok dan lain-lain

BERDASARKAN EFEKNYA TERHADAP SUSUNAN SYARAF PUSAT
Golongan Depresan
 mengurangi aktifitas fungsional tubuh
 merasa tenang, pendiam dan bahkan membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri.
 Opioida (morfin, heroin/putauw, kodein),
 Sedatif (penenang),
 hipnotik (obat tidur),
 tranquilizer (anti cemas),
 alkohol dalam dosis rendah,
 dan lain-lain.

Golongan Stimulan
 merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja.
 menjadi aktif, segar dan bersemangat .
 Golongan ini
 Kokain, Amfetamin (shabu, ekstasi), Kafein.

Golongan Halusinogen
 menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh perasaan dapat terganggu.
 Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis.
 Golongan ini termasuk
 Kanabis (ganja),
 LSD,
 Mescalin,
 Pensiklidin (PCP),
 berbagai jenis jamur,
 tanaman kecubung

NAPZA YANG TERDAPAT DI MASYARAKAT
SERTA AKIBAT PEMAKAIANNYA
OPIOIDA
 Opioida dibagi 3 golongan besar yaitu:
 Opioida alamiah (opiat ): morfin, opium, kodein
 Opioida semi sintetik: heroin/ putauw, hidromorfin
 Opioida sintetik: meperidin, propoksipen, metadon
Nama jalanannya: putauw, ptw, black heroin, brown sugar
 Heroin murni: bubuk putih
 Heroin yang tidak murni: putih keabuan
 Getah opium poppy yang diolah menjadi morfin à proses à putauw > 10 morfin.
 Opioid sintetik: > 400 kali dari morfin.
 Guna: analgetik kuat, berupa pethidin, methadon, Talwin, kodein dan lain-lain

Cara penyalahgunaan:
 disuntik (ngipe, nyipet, ive, cucau)
 dihisap (ngedrag, dragon)
Reaksi: sangat cepatà rasa ingin menyendiri
taraf kecanduanà
 hilang rasa percaya diri,
 tidak ingin bersosialisasi, membentuk dunia mereka sendiri.
 Lingkunganà musuh
 Berbohong
 penipuan/pencurian atau tindak kriminal lainnya.

KOKAIN
bentuk:
 kokain hidroklorid
 berupa kristal putih, rasa sedikit pahit dan lebih mudah larut dari free base.
 free base.
 tidak berwarna/ putih, tidak berbau dan rasanya pahit
Nama jalanan : koka, coke, happy dust, charlie, srepet, snow/salju, putih.
Biasanya dalam bentuk bubuk putih

Cara penyalahgunaan:
 cara menghirup bubuk dengan penyedot atau gulungan kertas,
 di bakar bersama tembakau yang sering disebut cocopuff.
 bentuk padat : dihirup asapnya (freebasing).
Penggunaan dengan menghirup akan berisiko luka pada sekitar lubang hidung bagian dalam.
Efek dari pemakaian kokain ini membuat pemakai merasa segar, hilang nafsu makan, menambah rasa percaya diri, juga dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah.

KANABIS
Nama jalanan: grass, cimeng, ganja, gelek, hasish, marijuana, bhang
Ganja berasal dari tanaman kanabis sativa dan kanabis indica.
Terkandung 3 zat utama yaitu tetrahidro kanabinol, kanabinol dan kanabidiol
Cara penyalahgunaan: dihisap dengan cara dipadatkan menyerupai rokok atau dengan menggunakan pipa rokok.
Efek:
 cenderung merasa lebih santai
 rasa gembira berlebih (euforia),
 sering berfantasi,
 aktif berkomunikasi,
 selera makan tinggi,
 sensitif,
 kering pada mulut dan tenggorokan.

AMFETAMIN
Nama generik: D-pseudo epinefrin yang disintesa tahun 1887, dan dipasarkan tahun 1932 sebagai dekongestan
Nama jalanan: speed, meth, crystal, uppers, whizz dan sulphate
Bentuk: bubuk warna putih dan keabu-abuan
Ada dua jenis amfetamin:
MDMA (methylene dioxy methamphetamin)
mulai dikenal sekitar tahun 1980 dengan nama Ectacy atau Ekstasi.
Nama lain: xtc, fantacy pils, inex, cece, cein, e.
tidak selalu berisi MDMA karena merupakan designer drugs à campur zat lain (disain) untuk mendapatkan efek yang diharapkan/dikehendaki:
white doft, pink heart, snow white, petir yang dikemas dalam bentuk pil atau kapsul.
Methamfetamin
lama kerja lebih panjang dibanding MDMA (dapat mencapai 12 jam) dan efek halusinasinya lebih kuat.
Nama lainnya shabu-shabu, SS, ice, crystal, crank.
Cara penggunaan :
Dalam bentuk pil di minum peroral
Dalam bentuk kristal, dibakar dengan menggunakan kertas aluminium foil dan asapnya dihisap (intra nasal) atau dibakar dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus (bong).
Dalam bentuk kristal yang dilarutkan, dapat juga melalui intra vena.

LSD (Lysergic acid)
 Termasuk dalam golongan halusinogen
 Nama jalanan : acid, trips, tabs
 Bentuk: seperti kertas berukuran kotak seperempat perangko dalam banyak warna dan gambar; berbentuk pil, kapsul
 Cara: meletakkan permukaan lidah dan bereaksi setelah 30-60 menit sejak pemakaian dan hilang setelah 8-12 jam.
 Efek: tripping, yang biasa digambarkan seperti halusinasi terhadap tempat, warna dan waktu.

SEDATIF-HIPNOTIK (BENZODIAZEPIN)
Digolongkan zat sedatif (obat penenang) dan hipnotika (obat tidur),
Nama jalanan dari Benzodiazepin : BK, Dum, Lexo, MG, Rohyp.
Cara: oral, intra vena dan rectal.
Di bidang medis:
 pengobatan kecemasan (ansietas),
 panik
 hipnotik (obat tidur)

SOLVENT / INHALANSIA
Uap dari bahan mudah menguap yang dihirup.
 Contohnya: aerosol, aica aibon, isi korek api gas, cairan untuk dry cleaning, tinner, uap bensin.
 Biasanya digunakan secara coba-coba oleh anak dibawah umur golongan kurang mampu/anak jalanan

Efek:
 pusing,
 kepala terasa berputar,
 halusinasi ringan,
 mual,
 muntah,
 gangguan fungsi paru, liver dan jantung.
 Kronisà kerusakan fungsi intelektual.

ALKOHOL
sering digunakan
 proses fermentasi madu, gula, sari buah atau umbi-umbian.
 proses penyulingan kadar alkohol tinggi mencapai 100%.
 Nama jalanan alkohol: booze, drink
Kadar dalam darah maksimum dicapai 30-90 menit
 eufori à kadar menurun: depresi

PENGGUNAAN NAPZA DALAM BIDANG MEDIK
terapi medik à pasien lebih baik atau bila mungkin sembuh dari penyakit atau gangguannya.
Psikofarmakaà
 Antipsikotik, Antiansietas, Antidepresan, Antiinsomnia, Antimanik
 tergolong Psikotropika dan sebagian kecilnya tergolong narkotika.

Narkotika
Morfin, Petidin
 digunakan untuk mengatasi nyeri yang di derita pasien kanker stadium terminal, nyeri kepala atau nyeri lainnya yang sukar dihentikan dengan analgetika lainnya, nyeri akibat pembedahan.
Kodein: simptom batuk.

Psikotropika
secara luas digunakan oleh dokter untuk mengatasi gangguan mental dan perilaku. Untuk mengatasi nyeri lambung, nyeri haid, nyeri dada atau proses psikosomatik lainnya (golongan benzodiazepine)

Anti psikotik
Chlorpromazin, haloperidol, trifluoperazin,
 tidak menimbulkan ketergantungan dan sangat jarang disalahgunakan pasien.

Antidepresan
Amitriptilin, Imipramin, Fluoxetin, Sertralin, dll
tidak menimbulkan ketergantungan dan sangat jarang disalahgunakan.

Golongan benzodiazepin
efek sedasi seperti: diazepam, clobazam, lorazepam, alprozolam
efek hipnotik (tidur) seperti: midazolam, triazolam, estazolam, nitrazepam
sering disalahgunakan.

Golongan Barbiturat
fenobarbital untuk menginduksi tidur yang bersifat long acting,
juga dapat disalahgunakan.

Methylphenydate (Ritalin)
derivat amphetamin
stimulansia susunan saraf pusat
obat pilihan bagi anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas
sering disalahgunakan.

ERITROSIT

Posted on

Eritrosit
Asal kata
• Sel darah merah atau yang juga disebut sebagai eritrosit berasal dari Bahasa Yunani, yaitu erythros berarti merah dan kytos yang berarti selubung/sel)

Daur hidup
• Proses dimana eritrosit diproduksi dinamakan eritropoiesis. Secara terus-menerus, eritrosit diproduksi di sumsum tulang merah, dengan laju produksi sekitar 2 juta eritrosit per detik (Pada embrio, hati berperan sebagai pusat produksi eritrosit utama).
• Produksi dapat distimulasi oleh hormon eritropoietin (EPO) yang disintesa oleh ginjal. Saat sebelum dan sesudah meninggalkan sumsum tulang belakang, sel yang berkembang ini dinamai retikulosit dan jumlahnya sekitar 1% dari seluruh darah yang beredar.
• Eritrosit dikembangkan dari sel induk melalui retikulosit untuk mendewasakan eritrosit dalam waktu sekitar 7 hari dan eritrosit dewasa akan hidup selama 100-120 hari.
Eritropoiesis
• Normal erythropoiesis
________________________________________

• CFU: Colony Forming Unit
Pematangan kemudian menghasilkan
• pro-erythroblasts (PE)
• basophile erythroblasts (EB)
• polychromatophile erythroblasts (EP).
• Ret : reticulocytes
• Sel-sel darah merah (GR).
Komponen
1. Membran eritrosit
2. Sistem enzim, yang terpenting : dalam Embden Meyerhoff pathway : pyruvate kinase, dalam pentosa pathway : enzim G6PD (gluoksa 6-phosphate dehydrogenase)
3. Hemoglobin, TA : heme dan globin
Fungsi:
• Eritrosit adalah jenis sel darah yang paling banyak dan berfungsi membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh lewat darah
• Ketika eritrosit berada dalam tegangan di pembuluh yang sempit, eritrosit akan melepaskan ATP yang akan menyebabkan dinding jaringan untuk berelaksasi dan melebar.[
• Eritrosit juga melepaskan senyawa S-nitrosothiol saat hemoglobin terdeoksigenasi, yang juga berfungsi untuk melebarkan pembuluh darah dan melancarkan arus darah supaya darah menuju ke daerah tubuh yang kekurangan oksigen.
• Eritrosit juga berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Ketika sel darah merah mengalami proses lisis oleh patogen atau bakteri, maka hemoglobin di dalam sel darah merah akan melepaskan radikal bebas yang akan menghancurkan dinding dan membran sel patogen, serta membunuhnya.
Sifat:
• Bagian dalam eritrosit terdiri dari hemoglobin, sebuah biomolekul yang dapat mengikat oksigen.
• Hemoglobin akan mengambil oksigen dari paru-paru, dan oksigen akan dilepaskan saat eritrosit melewati pembuluh kapiler.
• Warna merah sel darah merah sendiri berasal dari warna hemoglobin yang unsur pembuatnya adalah zat besi.
• Pada manusia, sel darah merah dibuat di sumsum tulang belakang, lalu membentuk kepingan bikonkaf.
• Di dalam sel darah merah tidak terdapat nukleus. Sel darah merah sendiri aktif selama 120 hari sebelum akhirnya dihancurkan.
• Oksigen dapat secara mudah berdifusi lewat membran sel darah merah.
• Hemoglobin di eritrosit juga membawa beberapa produk buangan seperti CO2 dari jaringan-jaringan di seluruh tubuh.
• Hampir keseluruhan molekul CO2 tersebut dibawa dalam bentuk bikarbonat dalam plasma darah.
• Myoglobin, sebuah senyawa yang terkait dengan hemoglobin, berperan sebagai pembawa oksigen di jaringan otot.
• Warna dari eritrosit berasal dari gugus heme yang terdapat pada hemoglobin, tetapi eritrosit akan berubah warna tergantung pada kondisi hemoglobin.
• Ketika terikat pada oksigen, eritrosit akan berwarna merah terang dan ketika oksigen dilepas maka warna erirosit akan berwarna lebih gelap, dan akan menimbulkan warna kebiru-biruan pada pembuluh darah dan kulit.

Eritrosit pada manusia
• Kepingan eritrosit manusia memiliki diameter sekitar 6-8 μm (rata-rata 7 μm) dan ketebalan 2 μm.
• Eritrosit normal memiliki volume sekitar 9 fL (9 femtoliter) Sekitar sepertiga dari volume diisi oleh hemoglobin.
• Total terdiri dari 270 juta molekul hemoglobin, dimana setiap molekul membawa 4 gugus heme.
• Orang dewasa wanita memiliki 4-5 juta eritrosit per mikroliter darah dan pria memiliki 5-6 juta.
• Sedangkan orang yang tinggal di dataran tinggi yang memiliki kadar oksigen yang rendah maka cenderung untuk memiliki sel darah merah yang lebih banyak).
• Eritrosit terkandung di darah dalam jumlah yang tinggi dibandingkan dengan partikel darah yang lain, seperti misalnya sel darah putih yang hanya memiliki sekitar 4000-11000 sel darah putih dan platelet yang hanya memiliki 150000-400000 di setiap mikroliter dalam darah manusia.
• Pada manusia, hemoglobin dalam sel darah merah mempunyai peran untuk mengantarkan lebih dari 98% oksigen ke seluruh tubuh, sedangkan sisanya terlarut dalam plasma darah.
• Eritrosit dalam tubuh manusia menyimpan sekitar 2.5 gram besi, mewakili sekitar 65% kandungan besi di dalam tubuh manusia.

Polimorfisme dan kelainan
• Morfologi sel darah merah yang normal adalah bikonkaf.
• Cekungan (konkaf) pada eritrosit digunakan untuk memberikan ruang pada hemoglobin yang akan mengikat oksigen.
• Tetapi, polimorfisme yang mengakibatkan abnormalitas pada eritrosit dapat menyebabkan munculnya banyak penyakit.
• Umumnya, polimorfisme disebabkan oleh mutasi gen pengkode hemoglobin, gen pengkode protein transmembran, ataupun gen pengkode protein sitoskeleton.
• Polimorfisme yang mungkin terjadi antara lain adalah anemia sel sabit, Duffy negatif, Glucose-6-phosphatase deficiency (defisiensi G6PD), talasemia.
Menghitung jumlah eritrosit
• Metode : kamar hitung
• Prinsip : darah diencerkan dalam pipet eritrosit, kemudian dimasukkan kedalam kamar hitung. Jumlah eritrosit dihitung dalam volume tertentu ; dengan menggunakan faktor konversi jumlah eritrosit dapat diperhitungkan
• Larutan pengencer : hayem (natrium sulfat : 5 gram, NaCl 1 gram, HgCl 0,5 gram dan akuades ad 200 mL). Gowers (Na2SO4 12,5 g, asam acetat glasial 33,3 mL , akuades ad 200 mL).
• Saring sebelum digunakan
Prosedur :
A. Mengisi pipet eritrosit
1. Isaplah darah (kapiler, EDTA atau oxalat) sampai garis tanda 0,5 tepat
2. Hapuslah kelebihan darah yang melekat pada ujung pipet
3. Masukkan ujung piepet kedalam larutan hayem sambil menahan darah pada garis tanda tadi. Pipet dipegang dengan sudut 45 derajat dan larutan hayem dihisap sampai garis-tanda 101. jangan sampai terjadi gelembung
4. Angkatlah pipet dari cairan; tutup ujung pipet dengan dengan jari lalu lepaskan karet penghisap
5. Kocoklah pipet itu selama 15-30 detik. Jika tidak segera digunakan , letakkan dalam sikap horisontal
B. Mengisi kamar Hitung
1. Letakkanlah KH yang bersih benar dengan KP terpasang diatas meja
2. Kocoklah pipet yang diisi tadi selama 3 menit terus-menerus; jagalah jangan sampai ada caira terbuang dari dalam pipet itu waktu mengocok
3. Buanglah semua cairan yang ada dalam batang kapiler pipet (3 atau 4 tetes) dan segeralah sentuhkan ujug pipet itu dengan sudut 30 derajat pada permukaan KH dengan menyinggung pinggir kaca penutup. Biarkan KH itu terisi perlahan-lahan dengan daya kapilaritasnya sendiri.
4. Biarkan KH itu selama 2-3 menit supaya eritrosit dapat mengendap. Jika tidak segera dihitung, simpan KH itu dalam sebuah cawan petri tertutup yang berisi segumpal kapas basah
C. Menghitung Jumlah sel
1. Turunkan lensa kondensor atau kecilkan diafragma. Meja mikroskop harus dalam sikap rata air.
2. Aturlah fokus terlebih dahulu dengan memakai lensa objektif 10x, kemudian lensa itu diganti dengan lensa objektif 40x, sampai garis-garis bagi dalam bidang besar tengah jelas tampak
3. Hitunglah semua eritrosit yang terdapat dalam 5 bidang yang tersusun dari 16 bidang kecil.
KH IN
• Hemocytometer grid:
red square = 1 mm2, 100 nl
green square = 0.0625 mm2, 6.25 nl
yellow square = 0.04 mm2, 4 nl
blue square = 0.0025 mm2, 0.25 nl
at a depth of 0.1 mm.
Perhitungan
• Pengenceran dalam pipet eritrosit adalah 200 kali.
• Luas tiap bidang kecil 1/400 mm2
• Tinggi KH 1/10 mm
• Eritrosit dihitung dalam 1 x 16 bidang kecil = 80 bidang kecil, yang jumlah luasnya 1/5 mm2
• Faktor untuk mendapat jumlah eritrosit per ul darah menjadi 5 X 10 X 200 = 10.000

Sumber:
Nurdin s.si penuntun hematologi 2011/STIkes Mega Rezky Makassar

” KOMPONEN DARAH DAN FUNGSINYA “

Posted on

Hematologi
Hematologi adalah cabang ilmu kesehatan yang mempelajari darah, organ pembentuk darah dan penyakitnya. Asal katanya dari bahasa Yunani haima artinya darah.

Terdiri dari dua komponen:
1. Korpuskuler adalah unsur padat darah yaitu sel-sel darah Eritrosit, Lekosit, Trombosit.
2. Plasma Darah adalah cairan darah.

Fungsi Umum Darah:
1. Transportasi (sari makanan, oksigen, karbondioksida, sampah dan air)
2. Termoregulasi (pengatur suhu tubuh)
3. Imunologi (mengandung antibodi tubuh)
4. Homeostasis (mengatur keseimbangan zat, pH regulator)

Eritrosit (Sel Darah Merah):
• Merupakan bagian utama dari sel darah.
• Jumlah pada pria dewasa sekitar 5 juta sel/cc darah dan pada wanita sekitar 4 juta sel/cc darah.
• Berbentuk Bikonkaf, warna merah disebabkan oleh Hemoglobin (Hb) fungsinya adalah untuk mengikat Oksigen.
• Kadar Hb inilah yang dijadikan patokan dalam menentukan penyakit Anemia.
• Eritrosit berusia sekitar 120 hari. Sel yang telah tua dihancurkan di Limpa . Hemoglobin dirombak kemudian dijadikan pigmen Bilirubin (pigmen empedu).

Lekosit (Sel Darah Putih)
• Jumlah sel pada orang dewasa berkisar antara 6000 – 9000 sel/cc darah.
• Fungsi utama dari sel tersebut adalah untuk Fagosit (pemakan) bibit penyakit/ benda asing yang masuk ke dalam tubuh.
• Maka jumlah sel tersebut bergantung dari bibit penyakit/benda asing yang masuk tubuh.
• Jumlah sel pada orang dewasa berkisar antara 6000 – 9000 sel/cc darah.
• Fungsi utama dari sel tersebut adalah untuk Fagosit (pemakan) bibit penyakit/ benda asing yang masuk ke dalam tubuh.
• Maka jumlah sel tersebut bergantung dari bibit penyakit/benda asing yang masuk tubuh.
Peningkatan jumlah lekosit merupakan petunjuk adanya infeksi (misalnya radang paru-paru).
• Lekopeni
Berkurangnya jumlah lekosit sampai di bawah 6000 sel/cc darah.
• Lekositosis
Bertambahnya jumlah lekosit melebihi normal (di atas 9000 sel/cc darah).

• Fungsi fagosit sel darah tersebut terkadang harus mencapai benda asing/kuman jauh di luar pembuluh darah.
• Kemampuan lekosit untuk menembus dinding pembuluh darah (kapiler) untuk mencapai daerah tertentu disebut Diapedesis.
Gerakan lekosit mirip dengan amoeba Gerak Amuboid.

Jenis-jenis Lekosit
• Granulosit
Lekosit yang di dalam sitoplasmanya memiliki butir-butir kasar (granula).
Jenisnya adalah eosinofil, basofil dan netrofil.
• Agranulosit
Lekosit yang sitoplasmanya tidak memiliki granola. Jenisnya adalah limfosit dan monosit.

• Eosinofil
mengandung granola berwama merah (Warna Eosin) disebut juga Asidofil. Berfungsi pada reaksi alergi (terutama infeksi cacing).
• Basofil
mengandung granula berwarna biru (Warna Basa). Berfungsi pada reaksi alergi.
• Netrofil
(ada dua jenis sel yaitu Netrofil Batang dan Netrofil Segmen). Disebut juga sebagai sel-sel PMN (Poly Morpho Nuclear). Berfungsi sebagai fagosit.
• Limfosit
(ada dua jenis sel yaitu sel T dan sel B). Keduanya berfungsi untuk menyelenggarakan imunitas (kekebalan) tubuh.
sel T4 = imunitas seluler
sel B4 = imunitas humoral
• Monosit
merupakan lekosit dengan ukuran paling besar
• Disebut pula sel darah pembeku.
• Jumlah sel pada orang dewasa sekitar 200.000 – 500.000 sel/cc.
• Di dalam trombosit terdapat banyak sekali faktor pembeku (Hemostasis) antara lain adalah Faktor VIII (Anti Haemophilic Factor)
• Jika seseorang secara genetis trombositnya tidak mengandung faktor tersebut, maka orang tersebut menderita Hemofili.

Plasma Darah
• Terdiri dari air dan protein darah Albumin, Globulin dan Fibrinogen.
• Cairan yang tidak mengandung unsur fibrinogen disebut Serum Darah.
• Protein dalam serum inilah yang bertindak sebagai Antibodi terhadap adanya benda asing (Antigen).
• Zat antibodi adalah senyawa Gama Globulin.
• Tiap antibodi bersifat spesifik terhadap antigen dan reaksinya bermacam-macam.
- Antibodi yang dapat menggumpalkan antigen = Presipitin.
- Antibodi yang dapat menguraikan antigen = Lisin.
- Antibodi yang dapat menawarkan racun = Antitoksin.
Komponen plasma
yellowish clear liquid, composed of water, proteins and other solutes.
• Water = 90%
• Proteins = (all synthesized by the liver)
• Albumin = 54%, regulates osmotic pressure
• Globulins = 38%, alpha and beta globulins in transport,
• gamma globulins in defense (antibodies)
• Fibrinogen = 7%, coagulation
• Other solutes =
Electrolytes – Na+, K+, Ca++, Mg++
Nutrients – glucose, amino acids, fatty acids, monoglycerides …
Gases – O2, N2, CO2
Regulatory substance – hormones, enzymes
Vitamins
Wastes

Sumber:nurdin,s.si penuntun hematologi 2011/stikes mega rezky makassar

HEMATOPOIESIS

Posted on

Hematopoiesis

Defenisi
• Haematopoiesis (dari Yunani Kuno: haima darah; poiesis untuk membuat) (atau hematopoiesis di Amerika Serikat; kadang-kadang juga haemopoiesis atau hemopoiesis) adalah pembentukan komponen sel darah
• Semua komponen darah seluler berasal dari sel-sel induk haematopoietic. Dalam orang dewasa yang sehat, kira-kira 1011-1012 sel-sel darah baru diproduksi setiap hari untuk mempertahankan jumlah darah dalam sirkulasi perifer.
Lokasi Pembentukan:
1. Yolk sac = Umur 0-3 bulan intrauterin
2. Hati & Lien = Umur 3-6 bulan intrauterin
3. Sumsum tulang = Umur 4 bulan intrauterin-dewasa
Untuk kelangsungan hematopoiesis diperlukan :
1. Sel induk hematopoietik /Hematopoietic sel induk (HSCs).
2. Lingkungan Mikro (mircoenvirotment) sumsum tulang.
3. Bahan-bahan pembentuk darah
4. Mekanisme regulasi
Hematopoietic sel induk (HSCs)
• Hematopoietic sel induk (HSCs) berada di medula (sumsum tulang) dan memiliki kemampuan yang unik untuk menghasilkan berbagai jenis sel darah dewasa (eritrosit, lekosit, trombosit, dan juga beberapa sel dalam SST , mis: fibroblast)
Hematopoietic sel induk (HSCs)
• Sel induk yang paling primitif disebut sebagai pluripotent (totipoten) stem cell.

Pluripoten Stem Cell mempunyai sifat :
1. Self renewal
adalah kemampuan memperbaharui diri sendiri sehingga tidak akan pernah habis meskipun terus membelah.
2. Proliferatif.
adalah kemampuan membelah atau memperbanyak diri
3. Differentiatif.
kemampuan untuk mematangkan diri menjadi sel-sel dengan fungsi tertentu
Menurut sifat kemampuan diferensiansinya Stem sel dapat di bagi menjadi:
1. Pluripoten (totipoten) stem cell.
Sel induk yg mempunyai kemampuan untuk menurunkan /menghasilkan seluruh jenis sel-sel darah
2. Commited stem cell.
Sel induk yang mempunyai komitmen untuk berdifferensiasi melalui salah satu garis keturunan sel. Yang termasuk dalam golongan ini adalah SI mieloid dan SI limfoid.
3. Oligopoten Stem Cell.
SI yg hanya dapat berdifferensiasi menjadi hanya beberapa jenis sel. Mis : CFU-GM (colony forming unit-granulosit/monosit) yg dapat berkembang hanya menjadi granulosit dan monosit
4. Unipotent stem cell.
SI yang hanya mampu berkembang menjadi satu jenis sel saja. Mis CFU-E, hanya dapat berkembang menjadi eritrosit, CFU-G = granulosit

2. Lingkungan Mikro (mircoenvirotment) sumsum tulang.
LMST adalah substansi yang memungkinkan sel tumbuh secara kondusif.
Komponen LM ini adalah
a. Mikrosirkulasi dlm SST
b. Sel-sel Stroma : sel endotil, lemak, fibroblast, Makrofag, sel retikulum (blanket cell)
c. Maktriks ekstraceluler : fibronektin, haemonektin, laminin, kolagen dan proteoglikan
Fungsi LM:

1. Menyediakan nutrisi dan bahan hematopoiesis yang dibawa oleh peredaran darah mikro dalam sumsum tulang
2. Komunikasi antar sel.
3. Menghasilkan zat yang mengatur hematopoiesis : Hematopoiesis Growth faktor, citokine dll
bahan-bahan pembentuk darah:
a. Asam folat dan vit B12 : bahan pokok pembentuk inti sel
b. Besi : HB
c. Cobalt, Mg, Cu dan Zn
d. Asam amino
e. Vit C, B kompleks dll

4. Mekanisme regulasi
• MR penting u/mengatur arah dan kuantitas pertumbuhan sel dan pelepasan sel darah yang matang dari SST ke darah tepi sehingga SST dapat merespon kebutuhan tubuh dengan tepat.

Zat-zat yg berpengaruh dalam MR
a. Faktor pertumbuhan hematopoiesis (HGF) :
 granulosit-Macrophage colony stimulating factor (GM-CSF).
 G-CSF
 M-CSF
 Trombhopoietin
b. Sitokin : IL-3 (merangsang/menghambat pertumbuhan SI)
c. Hormon hematopoietik spesifik : EPO
d. Hormon nonspesifik : androgen (stimulasi eritropoiesis), Estrogen (inhibisi eritropoiesis), glukokortikoid, Growth Hormon, hormon tiroid
Diagram yang menunjukkan perkembangan sel-sel darah yang berbeda dari sel hematopoietic matang

sumber: Ganda soebrata R dian rakyat

KIMIA AIR “ANALISIS AIR DI LAPANGAN”

Posted on

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Ilmu Laboratorium Kesehatan sebagai bagian integral ilmu kesehatan merupakan ilmu yang membahas tentang aspek laboratorium tidak hanya dalam menunjang diagnosis, membantu diagnosis, menegakkan diagnosis, differensial diagnosis, follow up penyakit dan prognosis penyakit, tapi juga membantu dalam mengkontrol suatu kondisi epidemiologi penyakit, kejadian keracunan, wabah menular dan tingkat sanitasi kesehatan melalui parameter kimia air, kimia makanan minuman dan kimia farmasi toksikologi.
Air merupakan bahan yang sangat penting bagi kehidupan umat manusia dan fungsinya tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Air juga merupakan komponen penting dalam bahan makanan karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, serta cita rasa makanan kita. Semua bahan makanan yang mengandung air dalam jumlah yang berbeda-beda, baik itu bahan makanan hewani maupun nabati. Air berperan sebagai pembawa zat – zat makanan dan sisa-sisa metabolisme, sebagai media reaksi yang menstabilkan pembentukan biopolimer,dan sebagainya.
Kandungan air dalam bahan makanan ikut menentukan acceptability, kesegaran dan daya tahan bahan itu. Selain itu, air juga merupakan pencuci yang baik bagi bahan makanan tersebut atau alat-alat yang akan digunakan dalam pengolahannya.
Bila badan manusia hidup dianalisis komposisi kimianya, maka akan diketahui bahwa kandungan airnya rata-rata 65% atau sekitar 47 liter per orang dewasa. Setiap hari sekitar 2,5 liter haus diganti dengan air yang baru. Diperkirakan dari sejumlah air yang harus diganti tersebut 1,5 liter berasal dari air minum dan sekitar 1,0 liter berasal adari bahan makanan yang dikonsumsi.

B. Tujuan Makalah
1. Penetapan baku mutu air dari berbagai kegiatan yang potensial menjadi sumber pencemaran air.
2. Menentukan Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
3. Dapat menentukan Aspek-aspek yang harus dipertimbangkan dalam penetapan Metodologi yang dipakai dalam “Analisis Air Di Lapangan”.
4. Melakukan pengkajian (analisis) alternatif teknologi pengendalian air di Lapangan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGAMBILAN SAMPEL AIR UNTUK PEMERIKSAAN KIMIA

1. PENDAHULUAN

Air merupakan senyawa yang mempunyai rumus molekul H2O. Dalam molekul tersebut. Atom Oksigen berikatan dengan 2 atom Hidrogen dengan ikatan kovalen. Penentuan atau penetapan kandungan air dapat dilakukan dengan beberapa cara. Hal ini tergantung pada sifat bahannya. Pada umumnya penentuan kadar air dilakukan dengan mengeringkan bahan dalam oven pada suhu 105 – 1100 C selama 3 jam atau sampai didapat berat yang konstan. Selisih berat sebelum dan sesudah pengeringan adalah banyaknya air yang diuapkan. Untuk bahan-bahan yang tidak tahan panas, seperti bahan yang berkadar gula tinggi, minyak, daging, kecap, dan lain-lain pemanasan dilakuikan dalam oven vakum dengan suhu yang lebih rendah.
Kadang-kadang pengeringan dilakukan tanpa pemanasan, bahan dimasukkan dalam eksikator dengan H2SO4 pekat sebagai pengering, hingga mencapai berat yang konstan. Penentuan kadar air dari bahan-bahan yang kadar airnya tinggi dan mengandung senyaawa – senyawa yang mudah menguap (volatile) seperti sayuran dan susu, menggunakan cara destilasi dengan pelarut tertentu, misalnya Toluen, xilol dan heptana yang berat jenisnya lebih rendah daripada air.
Contoh (sampel) dimasukkan dalam tabung bola (flask), kemudian dipanaskan. Air dan pelarut menguap, diembunkan, dan jatuh pada tabung Aufhauser yang berskala. Air yang mempunayai berat jenis lebih besar ada dibagian bawah, sehingga jumlah air yang diupakan dapat dilihat pada skala tabung Aufhauser tersebut
Tujuan dari pengambilan sampel / contoh adalah untuk mengumpulkan sebagian material / bahan dalam volume yang cukup kecil yang mewakili material / bahan yang akan diperiksa secara tepat / teliti untuk dapat dibawa dengan mudah dan diperiksa di laboratorium.
Hal ini berarti bahwa perbandingan atau konsentrasi relatif yang tepat dari semua komponen dalam sampel akan sama seperti dalam material yang disampling, serta tidak mengalami perubahan-perubahan yang berarti dalam komposisinya sebelum pemeriksaan dilakukan.
Untuk mendapatkan sampel yang mewakili diperlukan seorang pengambil sampel yang dapat / mampu melakukan prosedur pengambilan dan pengawetan sampel dengan baik, agar hasil uji laboratorium nantinya merupakan hasil uji yang dapat dipertanggungjawabkan kualitas dan kuantitasnya. Kemungkinan kandungan pada sampel dapat hilang secara keseluruhan atau sebagian jika prosedur pengambilan dan pengawetan sampel yang baik tidak diikuti dengan benar. Pada waktu pengambilan sampel air dilakukan pemeriksaan parameter air yang harus dilakukan segera / dilakukan dilapangan seperti : pemeriksaan fisika, pH, sisa Chlor.
2. Pengertian
Beberapa pengertian yang dimaksud dalam metode ini meliputi :
a) Sumber air adalah air permukaan, air tanah dan air meteoric
b) Air permukaan adalah air yang terdiri dari : air sungai, air danau, air waduk, air saluran, mata air, air rawa dan air gua / air karst.
c) Air tanah bebas adalah air dari akifer yang hanya sebagian terisi air dan terletak pada suatu dasar yang kedap air serta mempunyai permukaan bebas.
d) Air tanah tertekan adalah air dari akifer yang sepenuhnya jenuh air dengan bagian atas dan bawahnya dibatasi oleh lapisan yang kedap air.
e) Akifer adalah suatu laipsan pembawa air.
f) Epilimnion adalah lapisan atas danau atau waduk yang suhunya relatif sama.
g) Termoklin / metalimnion adalah laipsan danau yang mengalami penurunan suhu yang cukup besar (lebih dari 1O C/m) ke arah dasar danau.
h) Hipolimnion adalah lapisan bawah danau yang mempunyai suhu relatif sama dan lebih dingin dari lapisan atasnya, biasanya lapisan ini mengandung kadar oksigen yang rendah dan relatif stabil.
i) Air Meteorik adalah air meteorik dari labu ukur di stasiun meteor , air meteroik yang ditampung langsung dari hujan dan air meteorik dari bak penampungan air hujan.
j) Contoh adalah contoh air uji untuk keperluan pemeriksaan kualitas air.

3. Prinsip Pengambilan Sampel
Dapat dilihat pada pola urutan kerja sebagai berikut :
a. Menentukan lokasi pengambilan sampel
b. Menentukan titik pengambilan sampel.
c. Melakukan pengambilan sampel
d. Melakukan pengawetan sampel
e. Pengepakan sampel dan pengiriman ke laboratorium.

4. Bahan Pemeriksaan
Sampel air, yang berasal dari sumber air, air minum / air bersih, air kolam renang, air pemandian umum.
Ada 2 macam sampel air :
1. Sampel sesaat (grab sampel)
Sampel yang diambil pada suatu waktu dan tempat tertentu. Contoh : sampel yang diambil dari sumber air permukaan, sumber air persediaan.
2. Sampel gabungan waktu
Sampel yang dikumpulkan pada titik pengambilan sampel yang sama, tetapi pada waktu yang berbeda dan dalam waktu yang tidak lebih dari 24 jam. Sampel 120 ml setiap interval waktu masing-masing diambil dalam kapasitas tertentu atau satu jam sekali. Sampel-sampel kemudian dicampur pada akhir periode pengambilan sampel. Jika zat pengawet diperlukan, masukkan zat tersebut kedalam wadah yang masih kosong (setelah dicuci dengan sampel), sehingga semua bagian atau porsi dari gabungan sampel akan diawetkan segera setelah diambil dan digabungkan.
Sampel gabungan waktu digunakan untuk menentukan komponen-komponen yang dapat ditunjukkan tetap tidak berubah. Jumlah / volume sampel yang diambil untuk keperluan pemeriksaan dilapangan dan dilaboratorium tergantung pada jenis pemeriksaan yang diperlukan, yaitu sebagai berikut :
a. Untuk pemeriksaan fisika air diperlukan 2 liter.
b. Untuk pemeriksaan kimia air diperlukan 5 liter.
c. Untuk pemeriksaan bakteriologi air diperlukan 100 ml.

5. Alat dan reagen :
1. Alat
Alat-alat yang perlu dipersiapkan dalam pengambilan sampel sebagai berikut :
a. Alat pengambil sampel
b. Alat lain
c. Wadah untuk menyimpan sampel
Berikut penjelasan mengenai alat-alat yang diperlukan untuk pengambilan contoh :
a. Alat pengambil contoh
Alat pengambil contoh harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Terbuat dari bahan yang tidak terpengaruh sifat contoh (misalnya untuk keperluan pemeriksaan logam, alat pengambil contoh tidak terbuat daru logam.
2. Mudah dicuci dari bekas sampel sebelumnya.
3. Contoh mudah dipindahkan ke dalam botol penampung / wadah penyimpan tanpa ada sisa bahan tersuspensi didalamnya.
4. Mudah dan aman dibawa.
5. Kapasitas 1-5 liter, tergantung dari maksud pemeriksaan.
Alat pengambil sampel terdiri dari bermacam-macam bentuk tergantung pada jenis pemeriksaan yang dibutuhkan. Karena peralatan laboratorium di Puskesmas terbatas, maka yang digunakan adalah alat pengambil contoh tipe sederhana. Alat pengambil contoh tersebut adalah :
a. Alat pengambil contoh sederhana
Terdiri dari botol biasa atau ember plastik yang digunakan pada air permukaan secara langsung. Botol biasa yang diberi pemberat untuk digunakan pada kedalaman tertentu. Pemberat ini diikat dengan kawat kuningan / kawat tembaga dan tidak boleh memakai kawat besi, sebab besi mudah berkarat, sehingga mudah putus dan karatnya dapat mencemari air dengan menambah tinggi kadar besi.
b. Alat pengambil contoh setempat secara mendatar
Dipergunakan untuk mengambil contoh di sungai atau di tempat yang airnya mengalir pada kedalaman tertentu. Contoh alat ini adalah tipe Wohlenberg.
c. Alat pengambil contoh setempat secara tegak.
Dipergunakan untuk mengambil contoh pada lokasi yang airnya tenang atau alirannya sangat lambat seperti di danau, waduk, dan muara sungai pada kedalaman tertentu. Contoh alat ini adalah tipe Ruttner.
d. Alat pengambil sampel pada kedalaman yang terpadu untuk
pemeriksaan zat padat tersuspensi atau untuk mendapatkan contoh yang mewakili semua lapisan air. Contoh alat ini adalah tipe USDH.
e. Alat pengambil contoh secara otomatis yang dilengkapi alat pengatur waktu dan volume yang diambil. Digunakan untuk contoh gabungan waktu dari air limbah atau air sungai yang tercemar, agar diperoleh kualitas air rata-rata selama periode tertentu.
f. Alat pengambil contoh untuk pemeriksaan gas terlarut, yang dilengkapi tutup, sehingga alat dapat ditutup segera setelah terisi penuh. Contoh alat ini adalah tipe Casella.
b. Cara pengambilan sampel
1. Menentukan lokasi pengambilan sampel :
Lokasi pengambilan sampel dilakukan pada air permukaan dan air tanah. Lokasi pengambilan sampel ditentukan berdasarkan tujuan dan keperluan pengambilan sampel :
a. Lokasi pengambilan sampel air permukaan :
Lokasi pengambilan sampel air permukaan dapat berasal dari daerah pengaliran sungai dan danau / waduk.
b. Lokasi pengambilan sampel air tanah :
Pengambilan sampel air tanah dapat berasal dari air tanah bebas (tidak tertekan) dan air tanah tertekan dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Air tanah bebas (tidak tertekan), misal : sumur gali, sumur pompa tangan dangkal / dalam.
 Disebelah hulu dan hilir dari lokasi penimbunan / pembuangan sampah kota / industri.
 Disebelah hilir daerah pertanian yang intensif menggunakan pestisida dan pupuk kimia.
 Didaerah pantai dimana terjadi penyusupan air asin.
 Tempat-tempat lain yang dianggap perlu.
2. Air tanah tertekan
 Di sumur produksi air tanah untuk pemenuhan kebutuhan perkotaan, pedesaan, pertanian dan industri.
 Di sumur produksi air tanah PAM maupun sarana umum.
 Di sumur-sumur pemantauan kualitas air tanah.
 Di lokasi kawasan industri.
 Di sumur observasi untuk pengawasan imbuhan.
 Pada sumur observasi air tanah di suatu cekungan air tanah artesis ( misalnya : cekungan artesis Bandung)
 Pada sumur observasi di wilayah pesisir dimana terjadi penyusupan air asin.
 Pada sumur observasi penimbunan / pengolahan limbah industri bahan berbahaya dan beracun (B3).
 Pada sumur lainnya yang dianggap perlu.
2. Pemantauan kualitas air pada suatu daerah pengaliran sungai berdasarkan pada :
a. Sumber air alamiah :
Yaitu lokasi pada tempat yang belum terjadi atau masih sedikit pencemaran.
b. Sumber air tercemar :
Yaitu lokasi pada tempat yang telah mengalami perubahan atau dihilir sumber pencemar.
c. Sumber air yang dimanfaatkan
Yaitu lokasi pada tempat penyadapan pemenfaatan sumber air tersebut.
3. Pemantauan kualitas air pada danau / waduk berdasarkan pada :
a. Tempat masuknya sungai ke danau / waduk.
b. Ditengah danau / waduk.
c. Lokasi penyadapan air untuk pemanfaatan
d. Tempat keluarnya air danau / waduk.

c. Menentukan titik pengambilan contoh
a. Air permukaan.
Titik pengambilan contoh dapat dilakukan di sungai dan danau / waduk , dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Di sungai, titik pengambilan contoh di sungai dengan ketentuan:
a) Sungai dengan debit kurang dari 5 m3 / detik, contoh diambil pada satu titik di tengah sungai pada 0,5 x kedalaman dari permukaan air.
b) Sungai dengan debit antara 5 – 150 m3 / detik, contoh diambil pada dua titik masing-masing pada ada jarak 1/3 dan 2/3 lebar sungai pada 0,5 x kedalaman dari permukaan air.
c) Sungai dengan debit lebih dari 150 m3 / detik, contoh diambil minimum pada enam titik masing-masing pada jarak ¼. ½ dan ¾ lebar sungai pada 0,2 x dan 0,8 x kedalaman dari permukaan air.
2. Di danau / waduk, titik pengambilan contoh di danau / waduk dengan ketentuan :
a) Danau / waduk yang kedalamannya kurang dari 10 m, contoh diambil pada dua titik dipermukaan dan di dasar danau / waduk.
b) Danau / waduk dengan kedalaman antara 10-30 meter, contoh diambil pada tiga titik, yaitu : di permukaan, di lapisan termoklin dan di dasar danau / waduk.
c) Danau / waduk dengan kedalaman antara 30 – 100 m, contoh diambil pada empat titik, yaitu di permukaan, di lapisan termoklin ( metalimnion), di atas lapisan hipolimnion dan di dasar danau / waduk.
d) Danau / waduk yang kedalamannya lebih dari 100 m, titik pengambilan contoh dapat ditambah sesuai dengan keperluan.
b. Air tanah
Titik pengambilan contoh air tanah dapat berasal dari air tanah bebas dan air tanah tertekan (artesis) dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Air tanah bebas
a) Pada sumur gali, contoh diambil pada kedalaman 20 cm dibawah permukaan air dan sebaiknya diambil pada pagi hari.
b) Pada sumur bor dengan pompa tangan / mesin, contoh diambil dari kran / mulut pompa tempat keluarnya air setalh air dibuang selama lebih kurang 5 menit.
2. Air tanah tertekan
a) Pada sumur bor eksplorasi, contoh diambil pada titik yang telah ditentukan sesuai keperluan eksplorasi.
b) Pada sumur observasi, contoh diambil pada dasar sumur setelah air dalam sumur bor / pipa dibuang sampai habis (dikuras) sebanyak tiga kali.
c) Pada sumur produksi contoh diambil pada kran / mulut pompa keluarnya air.
3. Pengambilan sampel
a. Pengambilan sampel untuk pemeriksaan sifat fisika dan kimia air. Tahapan pengambilan contoh untuk keperluan ini adalah :
1. Menyiapkan alat pengambil contoh yang sesuai dengan keadaan sumber air.
2. Membilas alat dengan contoh yang akan diambil sebanyak tiga kali.
3. Mengambil contoh sesuai dengan keperluan dan campurkan dalam penampung sementara hingga merata.
4. Apabila contoh dimabil dari beberapa titik, maka volume contoh yang diambil dari setiap titik harus sama.
b. Pengambilan contoh untuk pemeriksaan Oksigen terlarut (DO). Pengambilan contoh dapt dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1. Cara langsung
Tahapan pengambilan contoh dengan cara langsung sebagai berikut :
 300 ml serta dilengkapi dengan tutup asah. Siapkan botol KOB (BOD) yang bersih dan mempunyai volume.
 Celupkan botol dengan hati-hati ke dalam air dengan posisi mulut botol searah dengan aliran air, sehingga air masuk kedalam botol dengan tenang, atau dapat pula dengan menggunakan sifon.
 Isi botol sampai penuh dan hindarkan terjadinya turbulensi dan gelembung udara selama pengisian dan penutupan botol, kemudian botol di tutup.
 Contoh siap untuk dianalisis.
2. Dengan alat khusus
Tahapan pengambilan contoh / sampel dengan cara alat khusus sebagai berikut :
 300 ml serta dilengkapi dengan tutup asah. Siapkan botol KOB (BOD) yang bersih dan mempunyai volume.
 Masukkan botol ke dalam alat khusus (tipe Casella).
 Ikuti prosedur pemakaian alat tersebut.
3. Label contoh
Contoh yang telah dimasukkan ke dalam wadah contoh diberi label. Pada label dicantumkan keterangan mengenai :
a. Nomor contoh
b. Nama petugas pengambil contoh
c. Tanggal dan jam pengambilan contoh
d. Tempat pengambilan contoh
6. Pemeriksaan di Lapangan
Pekerjaan yang dilakukan meliputi :
1. Pemeriksaan unsur-unsur yang dapat berubah dengan cepat, dilakukan langsung setelah pengambilan contoh ; unsur-unsur tersebut antara lain : pH, suhu, daya hantar listrik, alkalinity, acidity dan oksigen terlarut.
2. Semua hasil pemeriksaan dicatat dalam buku catatan khusus pemeriksaan di lapangan, yang meliputi : nama sumber air, tanggal pengambilan contoh, jam, keadaan cuaca, bahan pengawet yang ditambahkan dan nama petugas.
B. METODA PENGAMBILAN CONTOH AIR LIMBAH SESUAI SNI
Dalam rangka menyeragamkan teknik pengambilan contoh air limbah sebagaimana telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 Tahun 1988 tentang Baku Mutu Air dan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 37 Tahun 2003 tentang Metoda Analisis Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air Permukaan, maka dibuatlah Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Air dan air limbah – Bagian 59: Metode pengambilan contoh air limbah. SNI ini diterapkan untuk teknik pengambilan contoh air limbah sebagaimana yang tercantum di dalam Keputusan Menteri tersebut. Metoda ini digunakan untuk pengambilan contoh air guna keperluan pengujian sifat fisika dan kimia air limbah.
Kebutuhan Oksigen Biologi/KOB (Biologycal Oxcygen Demand, BOD), kebutuhan oksigen biokimiawi bagi proses deoksigenasi dalam suatu perairan atau air limbah.
Kebutuhan Oksigen Kimiawi/KOK (Chemical Oxcygen Demand COD), kebutuhan oksigen kimiawi bagi proses deoksigenasi dalam suatu perairan atau air limbah.
Nutrien, senyawa yang dibutuhkan oleh organisme yang meliputi fosfat, nitrogen, nitrit, nitrat dan ammonia.
Titik pengambilan contoh air limbah, tempat pengambilan contoh yang mewakili kualitas air limbah.
Bak Equalisasi, bak penampungan air limbah yang bertujuan untuk menghomogenkan beban dan pengaturan aliran air limbah.
1. Persyaratan alat pengambil contoh
Alat pengambil contoh harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi sifat contoh
b) mudah dicuci dari bekas contoh sebelumnya
c) contoh mudah dipindahkan ke dalam botol penampung tanpa ada sisa bahan tersuspensi di dalamnya
d) mudah dan aman di bawa
e) kapasitas alat tergantung dari tujuan pengujian.
2. Jenis alat pengambil contoh
 Alat pengambil contoh sederhana
Alat pengambil contoh sederhana dapat berupa ember plastik yang dilengkapi dengan tali atau gayung plastik yang bertangkai panjang.
Gambar 1 Contoh alat pengambil contoh gayung bertangkai panjang !

Gambar 2 Contoh botol biasa secara langsung !

 botol biasa yang diberi pemberat yang digunakan pada kedalaman tertentu.
Keterangan gambar:
A adalah pengait
B1 adalah tuas posisi tertutup
B2 adalah tuas posisi terbuka
C1 adalah tutup gelas botol contoh posisi tertutup
C2 adalah tutup gelas botol contoh posisi terbuka
D adalah tali penggantung
E adalah rangka metal botol contoh
Gambar 3 Contoh alat pengambil air Bersih botol biasa dengan pemberat
 Alat pengambil contoh air otomatis
Alat ini dilengkapi alat pengatur waktu dan volume yang diambil, digunakan untuk contoh gabungan waktu dan air limbah, agar diperoleh kualitas air rata-rata selama periode tertentu

Gam bar 4 Alat pengambil contoh air otomatis
3. Alat pengukur parameter lapangan
 DO meter atau peralatan untuk metode Winkler
 pH meter
 Turbidimeter
 Konduktimeter
 termometer; dan
 1 set alat pengukur debit.
4. Lokasi dan titik pengambilan contoh
a) Lokasi pengambilan contoh air limbah industri harus mempertimbangkan ada atau tidak adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
b) Contoh harus diambil pada lokasi yang telah mengalami pencampuran secara sempurna.
5. Penentuan lokasi pengambilan contoh
Lokasi pengambilan contoh dilakukan berdasarkan pada tujuan pengujian, sebagai berikut:
a) Contoh diambil pada lokasi sebelum dan setelah IPAL dengan memperhatikan waktu tinggal (waktu retensi).
b) Titik lokasi pengambilan contoh pada inlet
1. Dilakukan pada titik pada aliran bertubulensi tinggi agar terjadi pencampuran dengan baik, yaitu pada titik dimana limbah mengalir pada akhir proses produksi menuju ke IPAL.
2. Apabila tempat tidak memungkinkan untuk pengambilan contoh maka dapat ditentukan lokasi lain yang dapat mewakili karakteristik air limbah.
c) Titik lokasi pengambilan contoh pada outlet (titik 3, Gambar 5)
Pengambilan contoh pada outlet dilakukan pada lokasi setelah IPAL atau titik dimana air limbah yang mengalir sebelum memasuki badan air penerima (sungai).
6. Cara Pengambilan contoh untuk pengujian kualitas air
a. siapkan alat pengambil contoh sesuai dengan saluran pembuangan
b. bilas alat dengan contoh yang akan diambil, sebanyak 3 (tiga) kali
c. ambil contoh sesuai dengan peruntukan analisis dan campurkan dalam penampung sementara, kemudian homogenkan
d. masukkan ke dalam wadah yang sesuai peruntukan analisis
e. lakukan segera pengujian untuk parameter suhu, kekeruhan dan daya hantar listrik, pH dan oksigen terlarut yang dapat berubah dengan cepat dan tidak dapat diawetkan
f. hasil pengujian parameter lapangan dicatat dalam buku catatan khusus
g. pengambilan contoh untuk parameter pengujian di laboratorium dilakukan pengawetan seperti pada Lampiran B.
7. Pengambilan contoh untuk pengujian oksigen terlarut
Pengambilan contoh dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1. Cara langsung
 Gunakan alat DO meter.
 Cara pengoperasian alat, lihat petunjuk kerja alat.
 Nilai oksigen terlarut dapat langsung terbaca.
2. Cara tidak langsung
a. Cara umum
Pengukuran oksigen terlarut dilakukan dengan cara titrasi, sebagai berikut:
1) siapkan botol KOB yang bersih dengan volume yang diketahui serta dilengkapi dengan tutup asah
2) celupkan botol dengan hati-hati ke dalam air dengan posisi mulut botol searah dengan aliran air, sehingga air masuk ke dalam botol dengan tenang, atau dapat pula dengan menggunakan sifon
3) isi botol sampai penuh dan hindarkan terjadinya turbulensi dan gelembung udara selama pengisian, kemudian botol ditutup
4) contoh siap untuk dianalisa.
b. Cara khusus
Tahapan pengambilan contoh dengan cara alat khusus, dilakukan sebagai berikut:
1) siapkan botol KOB yang bersih dengan volume yang diketahui serta dilengkapi dengan tutup asah
2) masukkan botol ke dalam alat khusus
3) ikuti prosedur pemakaian alat tersebut
4) Alat pengambil contoh untuk pengujian oksigen terlarut ini dapat ditutup segera setelah terisi penuh.
C. METODE PEMERIKSAAN SUMBER AIR TANAH

Pengukuran air bawah tanah dilakukan dengan mempelajari karakteristik batuan yang mengandung air, menggunakan alat resistivity meter/terameter tipe ABEM SAS 1000 (Gambar 2). Titik penembakan dengan terameter ditentukan berdasarkan peta satuan lahan, peta geologi, dan hidrogeologi. Untuk ketepatan penentuan titik terlebih dahulu dilakukan penentuan posisi titik menggunakan GPS (Global Positioning System) selanjutnya dilakukan pengamatan dengan terameter untuk menentukan ketahanan jenis batuan dan kondisi akuifernya. Untuk melengkapi informasi dikumpulkan pula data sumur di sekitar titik pengamatan sebagai data pembanding.
.

Gambar 2. Prototipe terameter tipe ABEM SAS-1000
Upaya mengetahui potensi air bawah tanah dengan menggunakan alat terameter dikenal dengan survei geolistrik, yaitu salah satu metode geofisika untuk menduga kondisi geologi bawah permukaan, khususnya macam dan sifat batuan berdasarkan sifat-sifat kelistrikan batuan. Dari data sifat kelistrikan batuan yang berupa besaran tahanan jenis (resistivity), masing-masing dikelompokkan dan ditafsirkan dengan mempertimbangkan data kondisi geologi setempat. Perbedaan sifat kelistrikan batuan antara lain disebabkan oleh perbedaan macam mineral penyusun, porositas dan permeabilitas batuan, kandungan air,suhu,dan sebagainya. Dengan mempertimbangkan beberapa faktor di atas, dapat di interpretasikan kondisi air bawah tanah di suatu daerah.
a. Persyaratan alat pengambil contoh air tanah
Alat pengambil contoh harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi sifat contoh
2. mudah dicuci dari bekas contoh sebelumnya
3. contoh mudah dipindahkan ke dalam wadah penampung tanpa ada sisa bahan tersuspensi di dalamnya
4. mudah dan aman di bawa
5. kapasitas alat tergantung dari tujuan pengujian.
b. Jenis alat pengambil contoh air sumur bor
Salah satu contoh alat pengambil contoh air sumur bor adalah alat Bailer yang terdiri dari tabung teflon dengan ujung atas terbuka dan ujung bawah tertutup dilengkapi dengan katup ball valve.

c. Jenis alat pengambil contoh air sumur gali
Salah satu contoh alat pengambil contoh air sumur gali terdiri dari botol gelas dan stainless steel yang ujung atasnya dapat di buka tutup dan terikat tali keatas sedangkan ujung bawah tertutup dan dilengkapi pemberat di bawah.

d. Alat pengukur parameter lapangan
Peralatan yang perlu dibawa antara lain (alat lapangan sebelum digunakan perlu dilakukan kalibrasi:
a. pH meter
b. Konduktimeter
c. Termometer
d. Meteran
e. water level meter atau tali yang telah dilengkapi pemberat dan terukur panjangnya,
f. Global Positioning System (GPS).
D. METODOLOGI PEMANTAUAN KUALITAS LINGKUNGAN

Metodologi yang digunakan untuk melaksanakan pemantauan kualitas lingkungan di luar Peta Area Terdampak adalah pengamatan / pengukuran secara langsung (in situ) dengan menggunakan alat portable, seperti :
1. pH meter
pH meter digunakan untuk mengukur alkalinity dan acidity pada air, yang juga menunjukkan kadar ion hydrogen atau -log[H + ]. Ion merupakan atom atau sekumpulan atom yang mempunyai muatan listrik, bila negatif disebut anion, sebaliknya kation. Acidity di dominasi ion H + sedangkan alkalinity inon OH – . Air dengan pH>7 bersifat basa (alkaline), air dengan pH <7 bersifat acidic
2. DO (Dissolve Oxygen) meter
DO (Dissolve Oxygen) meter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur Oksigen Terlarut yang ada dalam air permukaan atau air tanah. Nilai DO bergantung pada banyaknya zat organiK dalam air dan juga pada suhu air (semakin tinggi suhu maka semakin rendah nilai DO.
3. TDS, Salinitas, dan DHL meter
TDS, Salinitas dan DHL (Daya Hantar Listrik/Electrical Conductivity) meter ini menggunakan metoda Electrical Conductivity dalam pengukurannya. Prinsip kerja Electrical Conductivity adalah dua buah probe dihubungkan ke larutan yang akan diukur, kemudian dengan rangkaian pemprosesan sinyal diharapkan bisa mengeluarkan output yang menunjukkan besar konduktifitas larutan tersebut, yang jika dikalikan dengan factor konversi maka akan kita dapatkan nilai kualitas air tersebut dalam TDS atau PPM.
4. Metode dan Peralatan dalam Pengambilan Sample Air Bersih (AB) dan Air Badan Air (ABA)
a. Peralatan yang dibutuhkan untuk pengambilan sampel :
 Air Bersih (AB)
 pH Meter
 TDS, Salinitas, dan DHL meter
 Ember kecil
 Aquadest + Botol
 Air Badan Air (ABA)
 DO Meter
 pH Meter
 TDS, Salinitas, dan DHL meter
 Ember kecil
 Aquadest + Botol
b. Metode pengambilan sampel :
 Air Bersih (AB)
 Mengambil sampleair bersih dari sumur dengan cara menimba atau melalui pompa air
 Mengukur sample air bersih dengan menggunakan alat portable, yaitu :
 pH meter
 TDS, Salinitas, dan DHL meter
 Mengukur sampel air bersih hingga angka yang ditunjukkan oleh alat-alat tersebut stabil.
 Mencatat hasil yang ditunjukkan pada monitor alat portable
 Air Badan Air (ABA)
 Mengambil sample air badan air dengan cara menimba air dari sungai menggunakan ember kecil.
 Mengukur sample air badan air dengan menggunakan alat portable, yaitu :
 DO meter
 pH meter
 TDS, Salinitas, dan DHL meter
 Mengukur sampel air badan air hingga angka yang ditunjukkan oleh alat-alat tersebut stabil.
 Mencatat hasil yang ditunjukkan pada monitor alat portable
 Gambar berikut menunjukkan peralatan portable yang dibutuhkan untuk pengambilan sample Air Bersih (AB) dan Air Badan Air (ABA).

Gambar 1. Peralatan yang diperlukan untuk sampling Air Bersih (AB) dan Air Badan Air (ABA). (a) TDS, Salinitas, dan DHL Meter, (b) pH Meter, (c) DO Meter, (d) Aquadest.

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan

Dalam Analisis Air di lapangan dilakukan dengan caa Fisika. Di samping cara – cara fisika, adapula cara – cara kimia untuk menentukan kadar Air. Mc Neil mengukur kadar air berdasarkan volume gas asetil yang dihasilkan dari reaksi kalsium karbida dengan bahan yang akan di periksa. Cara ini di pergunakan untuk bahan – bahan seperti sabun, tepung,dll. Sedangkan Karl fischer pada tahun 1935 menggunakan cara pengerigan berdasarkan reaksi kimia dengan titrasi langsungdari bahan basah dengan larutan iodine, sulfur dioksida, dan piridina dalam metanol. Perubahan warna akan menunjukan titik akhir titrasi.

B. Saran

Sebelum melakukan Analisis Air Di Lapangan, kita harus dapat menentukan lokasi pengambilan sampel, misalnya sungai, danau,dan lain-lain. Hal ini perlu ditetapkan karena untuk mengetahui perubahan kualitas air akibat aktivitas lingkungan sekitarnya.
Setelah itu menentukan frekuensi pengambilan contoh air karena pada umumnya selalu berubah dari waktu ke waktu. Setelah sampel di ambil,baru di kirik ke laboratorium. Namun, lokasi pengambilan sampel jauh perlu ditambahkan bahan pengawet. Usaha ini untuk menghambat perubahan komposisi zat – zat tertentu yang ada pada sampel tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Winarno F. G. 1997. Kimia Pangan Dan Gizi. Penerbit PT. GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA: Jakarta.

http://ripanimusyaffalab.blogspot.com/2010/01/analisis-air.html

file:///G:/KIMIA AIR/analisis-air.html
file://kimia air/pengambilan-dan-pengiriman-sampel-air.htm
file://kimia air/pengambilan-contoh-air-limbah.html
file://kimia air/Metoda Pengambilan Contoh Air Tanah Public Health Corner.htm
file://kimia air/index.php.htm

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.